Pages

Monday, 9 February 2015

Review Razer Chroma Series: Kombinasi Maut Performa dan Gaya!


Razer DeathAdder Chroma
Sebagian besar penggemar peripheral gaming untuk PC tentu saja sudah mengenal nama Razer untuk waktu yang cukup lama. Tumbuh menjadi “legenda” tersendiri, Razer selalu hadir dengan beragam produk peripheral pendukung gaming yang tidak hanya memesona secara performa, tetapi juga ciamik di sisi desain. Ia menjadi sebuah standar sendiri, sebuah brand yang senantiasa diburu oleh para gamer. Kini Razer hadir dengan gebrakan baru, melahirkan kembali produk-produk mereka dalam format baru bernama Chroma. Inti kekuatannya terletak pada desain kosmetik yang lebih “meriah” lewat implementasi lampu LED yang mampu menawarkan jenis cahaya yang lebih variatif, serta perbaikan di beberapa titik desain.
Razer sendiri mengirimkan tiga produk berbeda ke meja kami di beberapa minggu terakhir ini yang semuanya berasal dari series Chroma – sebuah headset gaming Kraken 7.1 Chroma, mouse gaming – DeathAdder Chroma, dan yang terakhir – sebuah keyboard gaming – Blackwidow Chroma. Mengingat kesemuanya hadir dari seri yang sama, maka review ketiga produk disatukan ke dalam artikel, dengan fokus detail yang dipertahankan. Sebuah kesatuan produk dengan nilai jual yang mungkin akan membuat Anda, jatuh hati!
Lantas, apa yang ditawarkan oleh ketiga produk yang satu ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai sebuah peripheral maut yang mengkombinasikan performa dan gaya? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.

Razer DeathAdder Chroma

Desain yang ergonomis menjadi salah satu kekuatan Razer DeathAdder ini.
Desain yang ergonomis menjadi salah satu kekuatan Razer DeathAdder ini.
Sebagian besar gamer yang cukup mengikuti perkembangan peripheral gaming tentu sudah tidak asing dengan mouse Razer yang satu ini. DeathAdder merupakan salah satu mouse gaming populer yang cukup diminati oleh gamer PC karena fungsi dan kenyamanan yang ia tawarkan. Sesuatu yang tetap  mereka pertahankan di seri Chroma yang satu ini.
Ia akan memfaslitasi gamer dengan claw maupun palm grip dengan sangat baik. Ekstra bahan karet di kedua sisi untuk menghasilkan grip yang lebih kuat.
Ia akan memfaslitasi gamer dengan claw maupun palm grip dengan sangat baik. Ekstra bahan karet di kedua sisi untuk menghasilkan grip yang lebih kuat.
Dukungan Omron Switch menjamin eksekusi perintah tanpa cela.
Dukungan Omron Switch menjamin eksekusi perintah tanpa cela.
Salah satu yang paling membuatnya dicintai adalah desain bentuk yang terasa sangat ergonomis di tangan, terlepas dari jenis grip yang menjadi preferensi utama Anda. Ia mengusung desain yang lebih tradisional dengan meniadakan tombol di bagian tengah untuk mengatur tingkat sensitivitas, dengan hanya menyisakan dua tombol klik utama dan scroll wheel di sana. Dua tombol ekstra disematkan di bagian kanan mouse untuk memfasilitasi kebutuhan Anda ketika menginginkan kombinasi perintah spesifik. Bentuk yang tidak terlalu besar dan hadirnya bahan ekstra karet di kedua sisi untuk mendukung grip yang lebih baik cukup memastikan bahwa DeathAdder Chroma ini akan memastikan aktivitas gaming berjalan tanpa masalah berarti.
Dengan switch Omron yang ia usung, reliabilitas dan konsistensi untuk mengeksekusi setiap perintah Anda ke dalam video game menjadi sesuatu yang tidak perlu lagi diragukan. Satu yang menarik, terlepas dari minimnya opsi untuk melakukan modifikasi berat, Razer DeathAdder Chroma ini terasa cukup nyaman untuk digunakan. Sayangnya, ada catatan ekstra yang patut diperhatikan. Dengan absennya tombol DPI untuk mengatur sensitivitas secara langsung, Anda akan sulit untuk langsung membuat DeathAdder ini beradaptasi dengan apa yang dibutuhkan, terutama ketika menikmati sebuah game kompetitif. Jadi, pastikan dahulu Anda menetapkan setting terbaik dahulu sebelum Anda terlibat dalam game-game seperti ini.
Berbeda dengan sebagian besar mouse saat ini, bentuk DeathAdder lebih "tradisional". Tidak ada dua tombol ekstra DPI untuk mengatur sensitivitas secara instan ala produk kompetitor lain.
Berbeda dengan sebagian besar mouse saat ini, bentuk DeathAdder lebih “tradisional”. Tidak ada dua tombol ekstra DPI untuk mengatur sensitivitas secara instan ala produk kompetitor lain.
Didukung Razer Synapse 2.0, Anda bisa memodifikasi beberapa aspek dengan mudah, dari mengatur sensitivitas, makro, hingga sifat lampu LED yang terletak di scroll wheel dan logo bagian belakang.
Didukung Razer Synapse 2.0, Anda bisa memodifikasi beberapa aspek dengan mudah, dari mengatur sensitivitas, makro, hingga sifat lampu LED yang terletak di scroll wheel dan logo bagian belakang.
Dukungan Razer Synapse 2.0 untuk DeathAdder Chroma ini juga memungkinkan Anda untuk memodifikasi beberapa aspek mouse gaming yang satu ini, tentu saja – di luar tingkat sensitivitas yang kita bahas sebelumnya. Dengan user-interface sederhana, Anda bisa menyuntikkan beberapa fungsi yang Anda butuhkan via fitur makro yang ada. Sebagai sebuah produk yang menyandang nama Chroma di dalamnya, Anda juga bisa memodifikasi efek lampu LED berwarna-warni yang akan membuat bagian scroll wheel dan logo Razer di bagian belakang menyala terang. Membuat warna-warna tersebut muncul secara bergiliran? Atau sekedar menyuntikkan efek breathing semata? Anda punya kebebasan untuk “meracik” mouse dengan kesan yang lebih personal.
Ada lebih dari 16 juta warna yang bisa Anda suntikkan di mouse ini dengan beragam sifat.
Ada lebih dari 16 juta warna yang bisa Anda suntikkan di mouse ini dengan beragam sifat.
Soal performa? Tidak ada yang perlu Anda khawatirkan tentunya. Razer memastikan bahwa DeathAdder Chroma ini tidak hanya ciamik di sisi kosmetik dan kenyamanan desain, tetapi juga performa yang ia tawarkan ketika memainkan game-game favorit Anda. Menjajalnya di DOTA 2 dan Lords of the Fallen, mouse ini berfungsi dengan semestinya. Tentu saja, selama Anda sudah menentukan tingkat sensitivitas yang dibutuhkan sebelumnya, untuk memastikan masalah ini tidak mengganggu Anda di tengah permainan.
Razer DeathAdder Chroma ini sendiri dijual di kisaran harga Rp 875.000,-, harga yang cukup rasional untuk mendapatkan desain ergonomis, performa mumpuni, dan sisi kosmetiknya yang meriah.

Audio selalu menjadi salah satu elemen dalam game yang seringkali diremehkan, namun pada nyatanya, berpengaruh sangat besar pada seberapa kuat pengalaman bermain yang Anda dapatkan. Razer menjawab tantangan tersebut melalui produk Kraken 7.1 Chroma-nya.
Dengan nama “7.1” yang ia sandang, sebagian besar dari Anda tampaknya sudah bisa menebak bahwa perangkat audio ini memang didesain dengan port USB sebagai ujung konektivitas utama. Hal  ini memungkinkan Anda untuk memodifikasi performa yang ada lewat perangkat lunak yang disuntikkan, sembari membangun kualitas suara yang sesuai dengan preferensi pribadi Anda. Namun dengan minimnya perangkat pendukung yang ditawarkan di paket penjualan, hampir mustahil untuk menggunakan Kraken 7.1 Chroma ini di platform gaming Anda yang lain. Anda bisa jatuh hati dengan detail suara yang ia tawarkan, namun tidak ada kesempatan untuk mencicipinya untuk menikmati game-game eksklusif Playstation 4 atau Wii U, atau bahkan perangkat mobile sekalipun. Tapi untuk Anda yang menjadikannya sebagai ujung tombak pengalaman audio di PC, Kraken 7.1 Chroma akan menawarkan apa yang Anda butuhkan.

Desainnya sendiri terhitung sangat nyaman, dengan kombinasi bahan busa dan kulit di bagian cup. Tidak ada perasaan menekan atau panas ketika digunakan dalam waktu lama.
Desainnya sendiri terhitung sangat nyaman, dengan kombinasi bahan busa dan kulit di bagian cup. Tidak ada perasaan menekan atau panas ketika digunakan dalam waktu lama.
Bagian mic tersimpan manis di bagian kiri headset.
Bagian mic tersimpan manis di bagian kiri headset.
Desain, Kenyamanan, dan Performa, ketiga elemen ini terhitung berhasil dieksekusi dengan manis oleh Razer di Kraken 7.1 Chroma ini. Dari sisi desain, ia terlihat indah lewat balutan warna hitam dan lampu LED yang menyala kontras di kedua sisinya. Bentuknya sendiri tidak terasa berlebihan, elegan, dan memperlihatkan identitas sebuah peripheral gaming yang begitu kuat dari luar. Sementara dari sisi kenyamanan, Kraken 7.1 Chroma juga pantas untuk diacungi jempol. Ukuran cup-nya  mungkin terasa sedikit kecil untuk gamer dengan daun telinga yang cukup besar, namun tidak satu kalipun, meninggalkan kesan menekan. Fleksibilitas yang dikombinasikan dengan kombinasi material busa dan kulit memastikan headset ini tetap akan terasa begitu nyaman dikenakan di kepala Anda, walaupun melewati sesi gaming yang panjang. Ia juga bisa dilipat jika Anda butuh membawanya dalam aktivitas mobile untuk menghemat ruang. Bagian mic juga tersimpan “manis” di cup bagian kiri.
Namun, apalah arti sebuah headset gaming tanpa menyisakan sebuah performa yang mampu memenuhi identitasnya tersebut? Untuk urusan yang satu ini, tidak ada yang perlu diragukan dari Kraken 7.1 Chroma ini. Dukungan perangkat lunak Razer Synapse 2.0 memungkinkan Anda untuk memodifikasi banyak elemen dan menghasilkan outcome suara yang menjadi preferensi pribadi Anda, dari mengatur bass, equalizer, hingga melakukan kalibrasi ulang untuk memastikan Anda mendapatkan suara surround yang semestinya. Berita baik untuk Anda yang senang dengan suara ledakan atau musik di volume yang cukup tinggi, Razer 7.1 Chroma ini juga memungkinkan hal tersebut. Namun tentu saja, walaupun efek suara yang ia hasilkan cukup mumpuni, Anda harus mempertimbangkan suara yang bocor keluar. Semata-mata memastikan bahwa aktivitas audio Anda tidak mengganggu kenyamanan orang lain.
Detail suara yang baik dan volume tinggi yang bisa ia hasilkan memang menarik. Namun hati-hati dengan suara bocor yang mungkin mengganggu kenyamanan orang lain di volume tertentu.
Detail suara yang baik dan volume tinggi yang bisa ia hasilkan memang menarik. Namun hati-hati dengan suara bocor yang mungkin mengganggu kenyamanan orang lain di volume tertentu.
Untuk para penikmat bass, baik di film maupun lagu, Kraken 7.1 Chroma akan membuat Anda jatuh hati!
Untuk para penikmat bass, baik di film maupun lagu, Kraken 7.1 Chroma akan membuat Anda jatuh hati!
Kekuatan utama produk peripheral ini? Tentu saja nama “7.1” yang ia usung, kemampuan untuk menawarkan suara surround secara digital untuk menghasilkan pengalaman yang lebih baik. Kraken 7.1 Chroma menjadi ujung tombak yang mumpuni untuk menikmati konten multimedia yang ada – dari musik, film, dan game action yang ada, apalagi jika Bass menjadi elemen dominan untuk setiap darinya.
Para gamer pencinta Bass akan jatuh hati dengan headset yang satu ini, diluar semua detail suara yang mampu ia hasilkan. Dentuman yang bulat, terkadang dengan getaran yang ia hasilkan di daun telinga melahirkan pengalaman audio yang pantas untuk diacungi jempol. Setidaknya ia berhasil membaut sesi menonton Guardian of Galaxy 1080p kami terasa seperti di layar lebar. Alunan musik lawas yang dicintai Star Lord, percakapan cheesy yang ia hasilkan, dan ledakan perang masif di Xandar yang bergetar di daun telinga. Masih tidak cukup? Ada ekstra boost bass sebagai salah satu fitur. Sensasi mumpuni ini juga kami nikmati di Lords of the Fallen. Dentingan dan alunan pedang raksasa sang First Warden juga mengalunn begitu indah. Walaupun demikian, ia juga masih akan memenuhi kebutuhan Anda yang lebih peduli soal detail suara.
Dukungan perangkat lunak dengan user-interface sederhana memungkinkan Anda untuk memodifikasi elemen suara yang dihasilkan sesuai dengan preferensi Anda.
Dukungan perangkat lunak dengan user-interface sederhana memungkinkan Anda untuk memodifikasi elemen suara yang dihasilkan sesuai dengan preferensi Anda.
Seperti seri Chroma yang lain, LED di kedua logo yang terletak di kedua sisi headset ini jadi highlight tersendiri.
Seperti seri Chroma yang lain, LED di kedua logo yang terletak di kedua sisi headset ini jadi highlight tersendiri.
Selain elemen suara yang bisa dimodifikasi, Razer Kraken 7.1 Chroma ini tentu hadir dengan ekstra nilai kosmetik lewat kedua lampu LED yang disuntikkan di masing-masing logo di bagian cup. Beragam efek  dan warna bisa Anda hasilkan.
Kemampuan suara surround, kenyamanan di telinga untuk aktivitas gaming yang panjang, dan sisi kosmetik membuat Kraken 7.1 Chroma ini sebagai produk yang menggoda. Harga yang disuntikkan Razer juga bisa dirasionalisasi, di sekitar Rp 1.450.000,-

Razer BlackWidow Ultimate Chroma

Dari semua produk Chroma yang tersedia, suntikkan sisi kosmetik di BlackWidow Ultimate Chroma ini boleh terbilang sebagai yang paling signifikan.
Dari semua produk Chroma yang tersedia, suntikkan sisi kosmetik di BlackWidow Ultimate Chroma ini boleh terbilang sebagai yang paling signifikan.
Berapa banyak dari Anda yang belum pernah mendengar nama produk “BlackWidow” dari Razer sebelumnya? Sebagian besar gamer PC tentu sudah tahu soal produk legendaris yang satu ini. Lewat seri Chroma, BlackWidow hadir dalam bentuk yang baru.
Tentu saja, seperti dua produk sebelumnya yang kita bahas, tidak hadir dalam bentuk yang benar-benar baru. Ia tetap sebuah keyboard mekanikal dengan desain standar dan tuts yang nyaman untuk digunakan. Tidak akan ada rasa canggung untuk memastikan jari Anda menari cepat di atasnya sejak pertama kali digunakan. Dengan kenyamanan mekanikal dan fitur anti-ghosting yang ia tawarkan, BlackWidow Chroma ini akan memastikan sesi gaming apapun yang Anda lemparkan kepadanya berakhir manis. Secara teknis, BlackWidow Chroma menjalankan tugasnya sebagai sebuah keyboard gaming yang mumpuni. Kami sudah mengujinya di DOTA 2 dan Lords of the Fallen tanpa menemui masalah sama sekali. Anda bisa bergerak tanpa perlu berhadapan dengan resiko apapun.
Mekanikal dengan fitur anti-ghosting, Anda tidak perlu takut keyboard ini tidak akan mampu menangani kecepatan gerak jari Anda ketika bermain game.
Mekanikal dengan fitur anti-ghosting, Anda tidak perlu takut keyboard ini tidak akan mampu menangani kecepatan gerak jari Anda ketika bermain game.
Razer BlackWidow Ultimate Chroma ini menggunakan Green Switch "racikan" Razer sendiri dengan sensasi yang mirip dengan Cherry MX Blue.
Razer BlackWidow Ultimate Chroma ini menggunakan Green Switch “racikan” Razer sendiri dengan sensasi yang mirip dengan Cherry MX Blue.
Lantas kekuatan seperti apa yang disuntikkan Razer di belakang identitas mekanikal-nya ini? Berbeda dengan BlackWidow 2013 yang hadir dengan Cherry MX Blue, BlackWidow Chroma ini mengusung switch “racikan” Razer sendiri – Green Switch. Razer sendiri tidak pernah secara terbuka mengaku bahwa switch tersebut merupakan varian switch Kailh yang mereka tawarkan kembali sebagai produk terpisah. Sensasi tactile Green Switch ini terasa tidak banyak berbeda dengan Blue Switch dari Cherry MX, bahkan dengan “polusi suara” yang terdengar serupa. Namun kami sempat menemukan beberapa masalah yang cukup mengganggu, terutama ketika mengetik. Seperti tombol Shift yang tidak bekerja untuk menciptakan huruf kapital atau momen repitisi huruf yang tiba-tiba terjadi tanpa alasan. BlackWidow Chroma ini juga hadir dengan ekstra slot USB di bagian kanan dan dua port jack untuk menghubungkan peripheral Anda yang lain.
Dengan driver ini, tidak hanya fungsi makro yang bisa Anda suntikkan. Anda juga bisa memaksimalkan sisi kosmetik dengan fakta bahwa tiap tuts di keyboard ini mampu menghasilkan warna yang berbeda-beda.
Dengan driver ini, tidak hanya fungsi makro yang bisa Anda suntikkan. Anda juga bisa memaksimalkan sisi kosmetik dengan fakta bahwa tiap tuts di keyboard ini mampu menghasilkan warna yang berbeda-beda.
Anda bisa membuat setiap tuts ini menyala dengan warna-warna berbeda. Kesempatan untuk menciptakan sebuah peripheral personal Anda sendiri.
Anda bisa membuat setiap tuts ini menyala dengan warna-warna berbeda. Kesempatan untuk menciptakan sebuah peripheral personal Anda sendiri.
Seperti halnya dua produk Razer Chroma sebelumnya, BlackWidow Chroma akan tampil lebih optimal setelah Anda memodifikasi fungsi yang ada via Razer Synapse 2.0. Kita tidak hanya sekedar membicarakan fungsi makro yang bisa Anda suntikkan untuk kombinasi fungsi kompleks secara instan. Dari semua produk berbasis Chroma yang ada, ia bahkan pantas disebut sebagai yang paling memaksimalkan efek LED yang bisa ia hasilkan.
Tidak hanya sekedar menghasilkan satu warna atau efek saja, Anda bisa memodifikasi tampilan warna LED untuk setiap tuts, dengan user-interface yang sangat mudah untuk dikuasai. Anda bisa bereksperimen sebebas Anda inginkan. Tidak terlalu suka dengan fitur seperti ini? Ada beragam efek menarik juga yang bisa Anda eksekusi, seperti Wave yang akan memunculkan efek gelombang berwarna-warni super keren yang arahnya juga bisa Anda tentukan. Untuk soal kosmetik, BlackWidow siap untuk membuat gamer manapun yang melihat Anda menggunakannya, iri.
Range warna yang bisa Anda hasilkan.
Range warna yang bisa Anda hasilkan.
Modifikasi fungsi, ketepatan performa, kenyamanan, dan sisi kosmetik yang bisa membentuk identitas personal Anda sebagai gamer? BlackWidow Chroma ini sendiri dihargai di kisaran harga Rp 2.000.000,-

Sebuah driver periheral terintegrasi berbasis cloud? Secara konsep, ia mungkin terdengar begitu kompleks dan menyiratkan seolah-olah bahwa Anda akan dihadapkan pada ekstra kerepoten tertentu hanya untuk memastikan peripheral dari Razer ini bekerja. Namun nyatanya tidak. Razer Synapse 2.0 menjadi perangkat lunak yang begitu bisa diandalkan untuk memastikan setiap produk Razer yang Anda miliki berjalan secara optimal. Tidak hanya karena kemampuan cloud-nya yang akan secara otomatis memastikan mouse, keyboard, dan headset Razer yang terkoneksi untuk berfungsi di firmware terbaru, tetapi juga dari fakta bahwa setiap setting yang Anda hasilkan akan disimpan di Cloud. Keuntungan yang kami rasakan sendiri ketika menjajal review yang satu ini.
Butuh rig lebih kuat untuk memainkan Lords of the Fallen, kami memutuskan untuk menggunakan rig lain untuk mencicipi game racikan GI Games tersebut. Membawa ketiga kesatuan produk Razer yang sudah kami otak-atik di rig sebelumnya ini, Razer Synapse 2.0 membuat proses ini lebih mudah. Ia menyimpan setting kami untuk setiap produk yang ada – BlackAdder, Kraken 7.1, dan BlackWidow Chroma dan membuatnya siap untuk digunakan tanpa perlu lagi menempuh kerepotan yang sama. Dengan hanya menghubungkannya via USB port yang ada dan terkoneksi ke internet, Razer Synapse 2.0 langsung meng-update setiap firmware mereka secara otomatis dan melakukan load setting yang sudah Anda simpan sebelumnya. It’s really easy!

Kesimpulan

Razer Kraken 71 Chroma
azer DeathAdder Chroma, Razer Kraken 7.1 Chroma, dan Razer BlackWidow Chroma berfungsi fantastis sebagai peripheral gaming yang berdiri sendiri-sendiri sesuai perannya masing-masing. Namun jika ia disatukan dalam satu sesi gaming yang sama, jajaran produk Razer ini dipastikan akan mampu membuat identitas Anda sebagai gamer semakin mengalir kuat.
Sebagai sebuah kesatuan produk, Razer kembali membuktikan diri mengapa ia pantas menyandang predikat sebagai salah satu produsen peripheral gaming yang pantas untuk dipuja lewat susunan produk Chroma Series ini.
Mempertahankan desain dan alasan mengapa produk-produk ini dicintai di masa lalu, tambahan fungsi LED dengan pilihan warna yang lebih variatif menghasilkan sisi kosmetik yang berbeda dan kaya, bahkan kesempatan untuk menciptakan sebuah identitas yang lebih personal bagi Anda sendiri. Razer DeathAdder Chroma, Razer Kraken 7.1 Chroma, dan Razer BlackWidow Chroma berfungsi fantastis sebagai peripheral gaming yang berdiri sendiri-sendiri sesuai perannya masing-masing. Namun jika ia disatukan dalam satu sesi gaming yang sama, jajaran produk Razer ini dipastikan akan mampu membuat identitas Anda sebagai gamer semakin mengalir kuat. Diperkuat dengan Razer Synapse 2.0 dengan user-interface sederhana, bukan perkara sulit untuk membuat semua peripheral Razer ini berjalan optimal.
Tentu saja, setiap produk ini memiliki catatan kelemahan tersendiri yang perlu Anda perhatikan sebelum membeli setiap dari mereka. Namun satu yang pasti, Razer Chroma Series berhasil menyuntikkan elemen estetika di atas performa dan kenyamanan, sebuah jaminan yang sama sekali tidak perlu diragukan.

sumber : http://jagatplay.com


Review The Crew – Apakah Kita Siap Dengan Sebuah MMORPG Racing?

Review The Crew – Apakah Kita Siap Dengan Sebuah MMORPG Racing?
Pertama kali mendengar konsep The Crew saya bisa dibilang cukup tertarik. Kita bersama teman atau pemain dari seluruh dunia bisa bekerja sama dalam sebuah aksi jalanan yang liar. Ini akan seperti memainkan film Fast & Furious dengan kita berada di belakang kemudi. Tapi apa yang terjadi adalah sebaliknya, misi demi misi saya jalani sendiri dan jika saya melihat seorang pengemudi lain maka pengemudi tersebut akan mencoba menabrak saya dengan kecepatan penuh. The Crew tidaklah seindah yang saya bayangkan.
Sebenarnya The Crew mempunyai konsep yang cukup bagus. Game ini mungkin cukup tepat kalo saya sebut sebagai MMO racing dengan konsep grinding seperti RPG. Kamu akan bermain sebagai seseorang yang sayangnya berada di tempat dan waktu yang salah. Agen FBI kemudian menjanjikan kamu kebebasan dan juga pembalasan dendam jika kamu mau menjadi kaki tangan mereka untuk menyusup ke dalam sebuah organisasi kejahatan yang sangat kental dengan aktivitas balapannya. Berbagai misi berbahaya kamu jalankan untuk mulai menyusup dan mendapatkan kepercayaan sang bos besar.

Kualitas Cerita Yang Diambil Seri Televisi

The Crew Big Screenshot 2
Tapi ada satu masalah besar dengan cerita ini dan kamu juga sudah mungkin menyadarinya. Terlalu banyak film atau seri TV yang menggunakan plot serupa. Beberapa menit pertama kamu mungkin dibuat penasaran dengan apa yang terjadi, tapi begitu kamu bekerja untuk sang agen FBI maka semuanya mulai membosankan. Apapun skenario klise yang ada dipikiran kamu sangat mungkin terjadi di sini. Tapi mungkin hal yang paling mengecewakan adalah jalan cerita yang seperti di percepat 30 kali. Seorang pemimpin gang mobil akan meminta kamu untuk melakukan misi sebagai pembuktian kemampuan, tapi setelah itu sang bos akan mulai mempercayakan misi berbahaya yang jika gagal akan mengakibatkan kehancuran bersama. Dan ini rata-rata terjadi sepanjang permainan.
Jika sang developer ingin mengambil rute plot klasik agen FBI yang memeras penjahat/orang yang sedang sial, maka sah-sah saja. Saya juga masih bisa mengikutinya dan mungkin menikmatinya dalam taraf yang wajar. Namun sayangnya hampir semua cut scene dan briefing dilakukan di atas mobil. Memang ini adalah game racing namun rasanya tidak perlu memaksakan sampai sebegitunya. Sesekali melihat jagoan kita sedang berada di rumah atau menemui temannya dengan berjalan (seperti orang pada umumnya) akan lebih membuat The Crew lebih mudah dinikmati. Tapi tidak kali ini, semuanya pada dasarnya di lakukan di atas mobil. Ini juga membuat perkembangan karakter menjadi terbatas dan mudah untuk dilupakan.

Mengelilingi Amerika Serikat Lewat The Crew

The Crew Big Map | Screenshot 3
The Crew Small Map | Screenshot 3
Saya mungkin tidak terpukau dengan jalan ceritanya sama sekali, tapi lain halnya dengan besarnya map yang ditawarkan. The Crew dengan ambisius menggunakan seluruh bagian dari Amerika Serikat sebagai peta dalam game ini. Tentu saja tidak dalam skala 1: 1 namun tetap saja sangat mengesankan bagi saya. Berkendara dari ujung map ke titik yang bahkan tidak sampai 1/2 dari map membutuhkan waktu sekitar 20 menit. Saya hanya bisa membayangkan bahwa berkendara dari ujung ke ujung akan membutuhkan lebih dari 1 jam.
Map yang sangat luar biasa besar ini berupaya menciptakan suasana open world yang nyata dan harus saya katakan sang developer cukup berhasil. Ada kalanya di mana saya menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menjelajahi Amerika. Setelah memainkan The Crew selama 2 minggu, saya jadi mendapat gambaran umum mengenai letak dan juga bentuk kehidupan yang berbeda dari negara Amerika (tidak seglamor yang kamu bayangkan).
Sayangnya map yang sangat luas sekali ini datang dengan kekurangannya sendiri. Yang pertama adalah bangunan tidak terlalu detail dan cukup banyak repetisi. Tidak terlalu banyak sampai membuat kamu jenuh, namun jika kamu menghabiskan waktu 2 jam untuk berkeliling maka kamu akan tahu bahwa sebuah kedai kopi yang sama akan ada setiap 10 bangunan. Bangunan penting akan memiliki tingkat detail yang lebih baik, namun bangunan lain akan tampak berbeda dari aslinya. The Crew mencoba untuk memberikan kamu sebuah tempat bermain yang sangat luas dengan mengambil desain negara Amerika, tapi mereka tidak berjanji bahwa ini akan menjadi tiruannya persis. Cukup adil.
Satu hal yang saya kurang suka adalah cara The Crew membatasi pergerakan kita. Ketika kita berjalan di sebuah area yang padat maka kebanyakan toko yang mempunyai lahan parkir akan memasang pagar yang tidak dapat hancur sehingga kamu tidak bisa masuk. Sebenarnya secara programming lahan tersebut sudah ada dan kamu bisa masuk, tapi entah kenapa pagar-pagar konyol yang tidak dapat hancur ini harus berada di sana. Ini membuat dunia The Crew yang luas menjadi sedikit berkurang aksesibilitasnya.

Ini Game Racing Dengan Rasa RPG

The Crew Big Car | Screenshot
Untuk gameplay utamanya, The Crew akan membuat kamu menjelajah seluruh Amerika dalam mode balapan yang berbeda. Dan saya sedang tidak membicarakan tentang time trial, knock-out atau mode lainnya yang umum kamu temui. The Crew akan mengajak kamu untuk mencoba berbagai jenis tipe balapan dengan spesifikasi mobil yang berbeda. Kamu bisa balapan di dalam kota dengan menggunakan spec street, sedikit off-road dengan menggunakan spec dirt, atau jika kamu suka balapan di sirkuit maka akan ada spec circuit. Jika RPG mempunyai class untuk masing-masing fungsi maka The Crew mempunyai 5 spec yang cocok untuk digunakan dalam menjalani misi demi misi.
Tentu saja ini bisa menjadi mimpi buruk atau sebaliknya. Jika kamu membenci aksi off-road, melewati hutan, atau melompati tanjakan dan mendarat dengan keras dengan mobil bagus kamu maka kamu akan tersiksa di sini. The Crew akan memaksa kamu untuk mencoba berbagai aksi balapan, masing-masing tidak terlalu dalam dan detail (contohnya kita bandingkan balapan sirkuit di The Crew dengan katakanlah Drive Club). Secara pribadi saya menyukai variasi ini walaupun kamu harus benar-benar berlatih menggunakannya mobil dengan spesifikasi berbeda.
The Crew Off Road Chase | Screenshot
Bagian yang saya suka dari The Crew adalah kamu tidak akan terlalu mudah berganti mobil. Begitu kamu membeli mobil pertama kamu, maka kamu akan menggunakannya dalam jangka waktu yang lama. Ini membuat saya dapat mempelajari dan mengendarai mobil saya dengan lebih baik. Sesuatu yang sulit dilakukan jika setiap 2 jam kamu dapat membeli mobil baru.
Untuk membuat mobil kamu tetap dapat beradu dengan mobil lain kamu harus menjalani misi dan tantangan yang tersebar. Setiap kali kamu berhasil menjalani sebuah tantangan maka kamu akan mendapat spare part yang langsung dapat kamu gunakan untuk membuat kendaraan kamu semakin bagus.. Semakin baik kamu menyelesaikan tantangan semakin bagus juga spare part yang akan kamu dapatkan. Kamu dapat menemukan ratusan tantangan tersebar diseluruh Amerika jadi hampir tidak mungkin untuk kehabisan. Dan jikapun kamu sudah menjalani semua tantangan, kamu bisa mengulangnya lagi untuk mendapatkan spare part yang lebih bagus. Ini adalah grinding ala RPG, tapi kamu melakukannya dengan mobil di atas jalanan.

Kamu Tidak Akan Berkendara Sendiri … Yang Benar Saja.

The Crew Online | Screenshot
Jadi sejauh ini The Crew mempunyai cerita yang nampaknya diambil dari sebuah seri TV, map yang sangat luar biasa luasnya, tipe mobil dan balapan yang berbeda, serta sistem leveling yang mirip dengan RPG. Tidak terdengar buruk sama sekali, namun ini bukanlah akhir dari ulasan ini. Begitu The Crew sudah memamerkan fitur-fitur yang dipunya, game ini mulai kewalahan dan menghancurkan dirinya sendiri dengan berbagai kekurangan yang vital.
Setelah bermain beberapa jam dan cukup mengerti bagaimana cara kerja The Crew, saya mulai semangat untuk melakukan co-op mission dengan pemain lain untuk mengejar seorang target. Saya nyalakan fitur co-op dan saya tidak pernah mendapat teman bermain selama 1 minggu penuh. Ini karena ketika saya bermain saya biasanya juga hanya melihat 3 sampai 4 orang lain yang sedang bermain di sebuah sesi yang sama. Level mereka sangat bervariasi sehingga sangat sulit untuk menjalankan sebuah misi secara bersama.
The Crew Online Small | Screenshot
Mode PvP antara geng pun tidak jauh berbeda. Menunggu 8 pemain untuk datang dan bermain bisa menghabiskan waktu antara 2 menit (langka) sampai dengan 1 hari penuh. Jika The Crew adalah sebuah MMO maka ini jelas ada yang salah di sini. Jikapun saya bertemu dengan orang lain yang masih setara maka mereka akan mengambil ancang-ancang dan menabrak kamu dengan keras dari belakang. Biasanya saya akan membalas hal ini dan 30 menit berlalu dihabiskan untuk saling tabrak-tabrak di kota dengan pemain lain. Seru tapi bodoh.
Hal kedua adalah kamu harus online terus menerus untuk memainkan The Crew. Oke itu tidak terdengar terlalu buruk, karena PlayStation 4 saya memang terus terhubung dengan internet dan lagi pula ini adalah sebuah MMO. Tapi yang membuat kesal adalah karena tidak ada banyak orang yang bisa diajak main maka ujung-ujungnnya kamu akan bermain sendiri menjalani misi demi misi. Selama menjalani misi ini, jika internet kamu terputus maka kamu bisa ucapkan selamat tinggal kepada progres game kamu (sesi balapan tersebut). Saya sudah sering mengalami hal ini bahkan sampai ke titik mana 2 detik lagi saya menang dan tiba-tiba koneksi terputus. Dengan waktu balapan yang mencapai 15 menit, saya hampir menangis.
The Crew Online Small | Screenshot 2
Hal terakhir yang membuat The Crew menjadi pengalaman bermain yang terlalu campur aduk adalah AI yang bodoh. Maksud saya adalah sang developer tidak bisa membuat AI yang cukup pintar untuk mengimbangi manusia sehingga mereka melakukan kompensasi dengan membuat AI lebih cepat dan gesit. Di balapan normal kamu bisa menyenggol mobil mereka sampai berputar, namun 10-20 detik kemudian mereka sudah berada tepat di belakang kamu. Atau dalam misi kabur, kamu bisa langsung berputar 180 derajat ketika pengejaran di mulai, mengambil jalur sempit, dan 30 detik kemudian misi selesai. Untungnya tidak semua misi yang ada bisa diselesaikan dengan cara ini namun tetap saja tidak memberikan rasa konsistensi yang baik. Setelah kamu keluar dari bengkel dengan cat dan modifikasi yang mantap, kamu tetap bisa dikalahkan dengan mobil Mini Cooper polos yang nampak baru keluar dari dealer.

Sumber : http://id.gamesinasia.com

Akhirnya, Rockstar Umumkan Tanggal Rilis GTA V PC!


Penantian yang terbayarkan manis. Setelah harus berhadapan dengan eksklusivitas konsol generasi terdahulu untuk waktu yang cukup lama, gamer PC akhirnya mendapatkan kepastian rilis GTA V untuk platform andalan mereka. Pengumuman yang dilakukan di ajang E3 2014 silam ini memang sempat mengklaim beberapa perubahan yang akan disuntikkan, terutama sisi visual yang akan jauh lebih optimal. Namun sayangnya, setelah antisipasi yang begitu besar, Rockstar tampaknya tutup mulut untuk membicarakan detail rilis GTA V versi PC ini. “Musim gugur 2014” menjadi jawaban yang terus didengungkan. Untungnya, misteri ini akhirnya terkuat. Rockstar secara resmi mengumumkan tanggal rilis resmi untuk GTA V PC dan New-Gen.
Di dalam informasi yang mereka telurkan, Rockstar membahas beberapa hal baru yang akan mereka suntikkan di GTA V versi PC, Playstation 4, dan Xbox One. Tidak hanya kualitas visual yang lebih baik, mereka juga akan menyertakan varian senjata, kendaraan, dan aktivitas yang baru. Los Santos kini juga akan terlihat lebih ramai dengan implementasi kondisi lalu lintas yang lebih padat, serta beragam binatang liar dan tanaman teranyar yang juga disertakan. Bagian terbaiknya? Mereka juga membenahi efek cuaca dan kerusakan yang bisa Anda hasilkan di dalamnya. Sebagai tambahan, GTA V versi PC dan new-gen ini juga akan memuat lebih dari 100 lagu baru.
Jadi, kapan Anda akan bisa menikmati GTA V ini? Sayangnya, ada sedikit berita buruk untuk para gamer PC yang sudah tidak sabar lagi mencicipinya. Rockstar mengumumkan perbedaan tanggal rilis yang cukup signifikan antara konsol new-gen dan PC. Playstation 4 dan Xbox One akan mendapatkan GTA V pada 18 November 2014 mendatang. Sementara PC? Anda baru bisa mencicipinya pada 27 Januari 2015. Rockstar sendiri tidak menjelaskan mengapa versi PC dirilis lebih lambat.
Bersamaan dengan pengumuman ini, Rockstar juga merilis 16 screenshot dan sebuah trailer terbaru GTA versi new-gen yang bisa Anda simak di bagian teratas artikel ini.
gta v pc15
gta v pc14
gta v pc13
gta v pc12
gta v pc11
gta v pc10
gta v pc9
gta v pc8
gta v pc6
gta v pc7
gta v pc5









sumber : http://jagatplay.com

Sunday, 8 February 2015

Assasint Creed Victory rilis di tahun 2015 !


 Assassin's-Creed-Victory--logo
Sementara belum mendapat informasi apapun terkait franschise tahunan Assassin's Creed terbaru,namun tidak menghalangi informasi tersebut bocor ketangan publik.Sebuah game terbaru seri Assassin's Creed dengan judul Assassin's Creed Victory disiapkan Ubisoft untuk tahun 2015.
Assassin's Creed Victory akan mengambil setting London pada era Victoria,sebagaimana diungkapkan oleh Kotaku yang juga menekankan visual AC Victory akan menggunakan engine yang sama dari Unity - Anvil Engine mengungkapkan detail visual yang tampak sempurna.
Assassin's-Creed-Victory
Assassin's-Creed-Victory-2
Assassin's-Creed-Victory-3
Assassin's-Creed-Victory-4
Kotaku juga menyebutkan Assassin's Creed Victory akan menjadi proyek perdana yang akan ditangani oleh Ubisoft Quebec dan tampaknya akan menjadi satu-satunya seri Assassin Creed pada tahun 2015.Namun sayangnya AC Victory ini tidak akan dirilis untuk konsol Playstation 3 dan Xbox 360.


Sumber : http://rnbgame.com

Monday, 2 February 2015

Sinopsis Wild Card 2014

 

Sinopsis Lengkap Film Wild Card (2015), Aksi Jason Statham Sebagai Bodyguard dan Pejudi
Sutradara :
Simon West

Produser :
Jason Statham, Steve Chasman

Penulis Skenario :
William Goldman
Pemain :
Jason Statham, Stanley Tucci, Sofia Vergara, Milo Ventimiglia, Michael Angarano, Anne Heche, Jason Alexander, Hope Davis, Max Casella, Dominik Garcia-Lorido, Cedric the Entertainer
Musik :
Dario Marianelli
Sinematografi :
Shelly Johnson

Editor :
Padraic McKinley

Produksi :
Current Entertainment, Quad Films, SJ Pictures, Sierra/Affinity

Distribusi :
Lionsgate

Tanggal rilis :
30 Januari 2015

Durasi :
92 menit

Negara :
Amerika Serikat

Bahasa :
Inggris

Biaya :
30 juta dolar AS
Trailer Film Wild Card :


Sinopsis lengkap film Wild Card: 

Aktor keren yang banyak bermain dalam film-film action dari Hollywood, Jason Statham akan memproduseri film terbarunya, sekaligus menjadi pemeran utama dalam film tersebut. Aktor asal Inggris itu bekerja sama dengan sutradara film “The Expendables 2” (2012) yang juga pernah dibintanginya, Simon West, dan penulis naskah yang merupakan pemenang Piala Oscar melalui film “All the President's Men” (1976) dan “The Princess Bride” (1987), William Goldman.

Sama seperti dua film yang pernah membawa William Goldman memenangkan Piala Oscar sebagai penulis naskah, cerita dalam film teranyar Jason Statham di awal tahun 2015 ini juga diadaptasi dari karya novel. Jika film “The Princess Bride” (1987) diangkat dari cerita novel karya penulis asal Chicago, Amerika Serikat itu yang berjudul sama terbitan tahun 1973, maka film terbaru kali ini mengambil cerita dari novelnya yang berjudul “Heat” keluaran tahun 1986.

Film ini berjudul “Wild Card”. Sebenarnya, novel tersebut juga sudah pernah diangkat ke layar lebar pada tahun 1986 dengan judul yang sama dan dibintangi Burt Reynolds. Namun, Jason Statham tertarik untuk memfilmkannya kembali, dan langsung membintanginya sendiri. Dalam film bergenre action crime ini, dia berperan sebagai Nick Wild, seorang petarung tangguh yang bekerja sebagai bodyguard di Las Vegas, namun juga memiliki masalah sebagai pecandu judi.

Suatu ketika, Nick mengetahui salah seorang temannya dipukuli secara brutal oleh beberapa orang preman. Dia pun nekat berhenti dari pekerjaannya sebagai bodyguard demi untuk mencari tahu identitas para preman yang menganiaya temannya tersebut dan membantunya membalas dendam. Namun, salah seorang preman itu ternyata adalah anak dari seorang bos mafia terkenal. Dia pun masuk dalam dunia kriminal yang sangat berbahaya bagi nyawanya.

Nick terlibat dalam masalah besar ketika dia dikejar-kejar oleh banyak pihak; penegak hukum yang ingin mengadilinya dan anak buah bos mafia yang ingin menghancurkannya. Dengan keterampilannya bertarung, dia berusaha untuk menyelamatkan diri. Namun, Nick terpaksa harus mengikuti sebuah permainan judi yang berbahaya dan menjadi taruhan bagi nyawanya. Sekarang hidupnya hanya bisa diselamatkan oleh dunia judi. Berhasilkah Nick untuk menang?

Dalam film “Wild Card” ini, para penonton tidak akan menyaksikan aksi tembak-menembak atau menggunakan senjata tempur lainnya, seperti dalam kebanyakan film yang pernah dibintangi Jason Statham. Sepanjang film ini, kita hanya akan melihat keahliannya sebagai petarung profesional dengan keterampilan yang mematikan. Selain itu, dia akan banyak bermain judi dan menunjukkan keahliannya dalam dunia taruhan tersebut demi menyelamatkan hidupnya sendiri.

Film “Wild Card” yang sudah dipersiapkan Jason Statham sejak sekitar 5 tahun yang lalu itu sudah ditayangkan perdana di Prancis pada 14 Januari 2015 lalu. Kemudian, disusul dengan penayangannya di Hungaria pada 29 januari 2015. Sedangkan rilisnya secara global dilakukan di Amerika Serikat pada 30 Januari 2015, dan kemudian diikuti di Jerman pada 12 Februari 2015. Mudah-mudahan film “Wild Card” ini segera diputar di bioskop-bioskop seluruh Indonesia.

Trailer : 

Review Film Interstellar: Misi Luar Angkasa yang Menggugah Hati

interstellar_ver4_xlg
Untuk sebagian penikmat film, pastinya tidak asing lagi dengan nama Christoper Nolan. Sutradara handal yang membuat namanya naik daun dari berbagai film yang ditanganinya seperti The Dark Knight dan Inception tersebut kini kembali membuat film bertema fiksi ilmiah dengan luar angkasa menjadi sorotan utamanya berjudul Interstellar.

Tinggalkan Bumi Demi Mencari “Bumi” yang Baru

inter16
Dalam film ini, Bumi mulai menjadi tempat yang sulit untuk ditinggali oleh manusia. Hama dan badai debu mulai menghambat pertumbuhan perkebunan dan pertanian, sehingga mau tidak mau harus ada yang pergi mencari planet baru dengan melakukan misi luar angkasa “Lazarus” yang dikerjakan oleh NASA secara rahasia. Cooper, seorang petani yang dulunya adalah pilot sekaligus insinyur di masanya, terpilih untuk menjadi pilot dari pesawat luar angkasa “Endurance” yang akan membawa para tim ekspedisi tersebut melakukan perjalanan antar bintang demi mencari planet Bumi yang baru.

Perjalanan Luar Angkasa yang Emosional dan Menggugah Hati

interstellar-film
Sedikit sulit untuk bisa menceritakan isi dari film ini tanpa harus memberikan spoiler secara tak sengaja, tetapi kami akhirnya berkesimpulan pada dua kata ini: pintar dan emosional. Hal tersebutlah yang terlintas dalam benak ketika selesai menonton film ini. Interstellar menawarkan beberapa teori ilmiah dan istilah luar angkasa yang walaupun terdengar sulit dan mungkin tak semua orang memiliki ketertarikan akan hal tersebut, masih mampu dicerna dengan penjelasannya yang cukup sederhana. Seperti di dalam film Nolan lainnya, Interstellar juga turut memberikan sebuah plot twist yang cukup menarik untuk disimak secara langsung ketimbang membaca atau mendengar cerita film ini.
Interstellar28
Beragam adegan juga memberikan sisi manusiawi beserta emosi yang cukup besar, di mana hal ini juga turut didukung dengan baiknya pembawaan peran para jajaran artis yang terlibat dalam Interstellar beserta penggambaran perjalanan luar angkasa yang terasa nyata. Para penonton seolah diajak untuk merasakan emosi sekaligus pengalaman perjalanan para anggota tim ekspedisi luar angkasa tersebut. Walau mayoritas adegan film ini dibawakan dengan serius, Interstellar juga tetap mampu memberikan percakapan humoris yang tepat pada tempatnya dan tak terkesan dipaksakan.
Interstellar18
Genre fiksi ilmiah bukanlah sebuah genre yang tidak lazim lagi. Namun mengingat film Interstellar berdurasi hampir 3 jam dan menampilkan berbagai dialog mengenai teori ilmiah, maka mungkin akan menjadi membosankan atau malah membingungkan bagi mereka yang tidak terbiasa menonton film sejenis ini. Walau begitu, kepiawaian Nolan untuk menggarap film fiksi ilmiah sudah tak perlu diragukan lagi, membuat film Interstellar pun layak menjadi film wajib tonton di tahun 2014 ini.
Interstellar29
Tanggal Rilis: 5 November 2014 (Indonesia)
Genre: Science Fiction
Durasi: 169 menit
Sutradara: Christoper Nolan
Pemain: Matthew McConaughey, Anne Hathaway, Jessica Chastain, Michael Caine, Bill Irwin, Ellen Burstyn, Matt Damon
Studio: Legendary Pictures, Paramount Pictures

Source : Jagatreview.com

Review Film Black Hat: Mengejar Hacker Internasional Hingga ke Jakarta

blackhat poster
Dengan banyaknya kasus serangan hacker besar-besaran antar negara dan organisasi yang terjadi saat ini, film yang dihadirkan oleh sutradara Michael Mann berjudul ‘Black Hat’ sepertinya bisa sedikit menggambarkan kinerja para hacker menjalankan setiap aksinya, terutama aksi kejahatan di dunia maya. Penuh rahasia, kode dan tanpa jejak, namun bisa menghasilkan kerusakan yang berpengaruh besar bagi target sasaran, disamping para hacker tersebut juga meraup keuntungan dari kasus pencurian uang. Seolah perang sistem telah menjadi tren yang memperlihatkan efektifitas dan efisiensi serangan-serangan melalui peretasan sistem hingga menyebabkan senjata makan tuan bagi target mereka.

Adu Kehebatan Hacker Kepolisian dan Penjahat

1
Black Hat dibintangi oleh Chris Hemsworth sebagai aktor utama memerankan Nicholas Hathaway, seorang hacker profesional yang menjadi tahanan pemerintah AS karena aksi pembobolan bank. Namun kali ini ia dimintai bantuan oleh FBI atas rekomendasi dari kawan lama Hathway yang bekerja di kementrian pertahanan China bernama Ceng Da Wai (Wang LeeHom). Ini terjadi setelah terjadi peretasan di sistem pembangkit tenaga nuklir di China yang menyebabkan reaktor nuklir meledak dan saham keledai yang secara tiba-tiba naik hingga 250%. Da Wai dan Hathaway bekerja sama dengan FBI untuk membongkar sindikat peretas yang diidentifikasi telah menggunakan malware yang pernah dibuat oleh Hathway dan Da Wai semasa kuliah dulu.
2
FBI, Da Wai, Hathaway serta Lien adik Da Wai mulai menyelusuri jejak hacker yang ternyata beraksi tidak sendirian. Para peretas ini telah membentuk kelompok yang tersebar di berbagai negara, dan sangat berbahaya. Kelompok peretas ini juga terlatih menggunakan senjata api untuk melindungi dirinya. Yang cukup membingungkan Hathway dan timnya yaitu motif dari para pereteas ini. Para peretas dengan hebat menyembunyikan motif mereka, karena tidak ada pesan ataupun ancaman berbau politik, sara, maupun financial.
Satu persatu jejak hacker membawa tim penyelidik melintasi kota di berbagai negara. Mulai dari Los Angeles, Beijing, Perak hingga Jakarta. Kesulitan yang dihadapi pun semakin berat lantaran Hathway sebagai tahanan sementara tidak mendapat izin untuk pergi dari Amerika. Tim penyelidik ini akhirnya secara diam-diam tanpa bantuan dari pihak FBI untuk menyelesaikan misinya.
chris-hemsworth-blackhat-movie
Perjalanan tim penyelidik ini juga dibumbui kisah asmara antara Hathway dengan Lein (Tang Wei). Lein terpesona dengan kepintaran dan ketampanan Hathway, membuatnya tak ingin lepas darinya. Meski akhirnya sang kakak Da Wai mengetahui hubungan antara keduanya, tapi mereka tetap fokus menjalankan misinya menangkap para cyber-crime tanpa identitas dan tanpa motif tersebut.

Scene dan Plot Yang Rapih, Akhir Yang Mengejutkan

5
Film yang digarap Michael Mann ini dihadirkan dalam durasi yang cukup panjang yaitu 133 menit. Dengan durasi panjang dan alur cerita rumit tersebut, penonton seolah ikut terbawa dalam perjalanan Hathway mengejar hacker melintas benua. Uniknya film ini lebih memiliki kesan Asia dibandingkan Hollywood karena sebagian besar pemeran dan lokasi pengambilan dilakukan di China dan Asia Tenggara. Cukup aman karena Black Hat tidak mengangkat unsur-unsur politik maupun budaya dalam konflik film, justru amat jarang terjadi jika melihat di layar lebar tentang kerja sama antara China dan Amerika.
Pengambilan gambar serta scene adegan juga dilakukan dengan rapi, jika dibayangkan kesulitan tim produksi untuk melakukan syuting di lintas negara dengan kondisi berbeda.  Tentu tim produksi harus melakukan riset yang cukup untuk mempertimbangkan waktu dan lokasi syuting sebelum melakukan pengambilan gambar yang apik.
blackhat-movie-image
Efek backsound juga sangat mendukung suasana film hingga bagian akhir. Ledakan-ledakan bom atau senjata terdengar nyata membawa penonton hanyut dalam ketegangan. Sedikit nilai minus untuk film ini secara pribadi saya katakan justru datang dibagian akhir film. Entah mengapa dibagian akhir film, tema perang teknologi justru seperti disingkirkan digantikan aksi battle personal. Selain itu dialog antar pemeran juga seperti hilang, sangat drastis jika dibandingkan dengan bagian awal. Kesinambungan Hathaway sebagai orang pembantu FBI juga tidak terlihat, dan ini justru dialami sejak awal perjalanan Hathway dari Los Angeles ke Beijing. Seolah FBI sama sekali tidak ikut serta dalam kasus tersebut.
Meski demikian, bagian akhir film justru akan menjadi yang paling ditunggu oleh penggemar film Tanah Air. Apalagi tujuan terakhir Hathaway dalam mengejar hacker adalah di Indonesia. Penonton tanah air akan sangat familiar dengan lokasi-lokasi di ibukota Jakarta. Beberapa dialog berbahasa Indonesia juga bisa anda saksikan di film tersebut.
Selain Chris Hemsworth, Wang LeeHom dan Tang wei, film ini juga diisi oleh pemeran pembantu lain seperti Viola Davis, Holt McCallany, Ritchie Coster, dan Yorick van Wageningen. Black Hat akan segera menghentak bioskop kesayangan anda di pertengahan bulan Januari ini.
chris-hemsworth-blackhat-movie
Tanggal Rilis: 16 Januari 2015
Genre: Action Crime
Durasi: 133 menit
Sutradara: Michael Mann
Pemain Chris Hemsworth, Wang LeeHom, Tang Wei, Viola Davis, Holt McCallany, Ritchie Coster, Yorick van Wageningen
Studio: Legendary Pictures, Universal Pictures

Source : jagatreview.com

Review Film The Imitation Game: Kisah Nyata Sang Pencetus Teknologi Mesin Komputer

poster
Jika anda saat ini menggunakan komputer canggih dalam bentuk PC maupun gadget, sedikit informasi tambahan untuk anda bahwa semua kecanggihan ini sebenarnya bermuara dari sebuah mesin rahasia milik pemerintah Inggris yang digunakan di perang dunia kedua. Dikenal sebagai mesin Turing, mesin ini menjadi cikal-bakal teknologi komputer yang penuh dengan kode-kode. Siapa sangka algortima matematika yang rumit dalam pengembangan komputer justru berawal dari kisah penuh konflik di masa peperangan. Kisah tersebut diangkat kedalam film berjudul The Imitation Game yang diangkat dari buku berjudul Alan Turing: The Enigma, karya Andrew Hodges yang membongkar rahasia selama hampir dari 50 tahun.

Kisah Nyata Perang Dunia II Puluhan Tahun Baru Terbongkar

3
Ini adalah kisah nyata dari seorang ahli kode bernama Alan Turing (Benedict Cumberbatch). Di sekitar tahun 1941 ketika terjadi perang dunia kedua, Alan Turing ikut bergabung kedalam misi rahasia yang diemban oleh kerajaan Inggris. Alan Turing yang juga seorang lulusan Universitas Cambridge, sangat gemar dalam hal memecahkan kode-kode rahasia yang telah ditekuninya sejak remaja.
Tugas rahasia ini yaitu memecahkan kode dari mesin pesan Enigma milik Jerman. Mesin pesan ini memiliki kode yang sangat rumit untuk dipecahkan, digunakan untuk mengirim pesan perintah tentara Nazi Jerman yang menjadi musuh utama Britania Raya. Alan Turing dan tim ahli enksripsi harus memecahkan kode pesan yang memiliki kemungkinan sebesar 159 triliun kode setiap harinya. Ini tentu hal diluar batas kemampuan manusia.
2014, THE IMITATION GAME
Untuk menyelesaikan tugas tersebut, akhirnya Alan Turing membuat mesin yang mampu memecah kode Enigma. Selain rancangan mesin tersebut sangat rumit, Alan Turing juga membutuhkan dana yang sangat besar yaitu 100 ribu poundsterling. Hal ini mendapat penentangan dari komandannya Alastair Denniston (Charles Dance), yang dan meragukan Alan Turing untuk benar-benar mewujudkan mesin tersebut.
Alan Turing semakin diragukan dan bahkan dicurigai sebagai mata-mata Uni Soviet karena sikapnya yang berbeda dari teman-teman setimnya. Alan cenderung ingin bekerja sendiri, enggan bergaul dan selalu merasa paling benar. Tapi Alan justru mendapat dukungan kuat dari panglima jenderal Stewart Menzies (Mark Strong)  dan perdana menteri Inggris Sir Winston Churchill yang melihat ide-ide Alan memang sangat brilian. Bahkan Alan ditunjuk sebagai ketua dalam tim pemecah kode di Bletchley dan memiliki kewenangan untuk menentukan rencana kerja dalam timnya tersebut.
Kesulitan Alan bergaul membuatnya dikucilkan. Rekan-rekan setimnya mencurigai ada sesuatu hal yang sangat dirahasiakan dalam diri Alan Turing. Begitu pula dengan komandan Denniston yang sejak awal meragukan Alan Turing. Tapi hal tersebut akhirnya mulai cair setelah hadirnya anggota baru, seorang wanita cantik ahli matematika bernama Joan Clarke (Keira Knightley). Clarke seolah menjadi kunci sukses Alan meraih kepercayaan dari rekan-rekan dan atasannya itu. Meski rekannya tak lagi mencurigai Alan sebagai mata-mata, namun Alan memang masih menyembunyikan rahasia besar tentang jati dirinya. Apakah rahasia besar yang disembunyikan Alan Turing tersebut ?

Penuh Intrik, Drama Sejarah Bertaut Pesan-pesan Moral

1
Apa yang kita inginkan dari sebuah film bergenre drama sepertinya sudah sangat lengkap dihadirkan dalam film The Imitation Game. Apalagi film ini diangkat dari kisah nyata yang alurnya tak memiliki perbedaan dari kisah aslinya, untuk plot cerita tentu tak ada yang berlebihan. Imitation Game mengangkat kisah nyata pencetus mesin Turing dengan menyorot banyak angle konflik. Selain sejarah perang, konspirasi rahasia, juga mencakup kehidupan pribadi dan sosial dari seorang Alan Turing.
Morten Tyldum memilih aktor yang tepat untuk memerankan tokoh utama di film ini. Seorang aktor Inggris dengan aksen British yang kental dan perangai misterius dari Benedict Cumberbatch sukses menggambarkan pribadi seorang Alan Turing. Untuk film kali ini, Benedict Cumberbatch sepertinya punya kejutan yang belum pernah disaksikan oleh penggemarnya, bagaimana ia memerankan karakter unik dengan penuh penjiwaan dengan luapan-luapan emosi yang membuat penonton ikut dalam suasana. Bahkan kita akan tak pernah menyangka sebelumnya, saat sang aktor bisa menangis tersedu atau ketika anda merasa gemas dengan karakter sombong Alan Turing yang ia mainkan.
4
Banyak pesan moral yang disampaikan dalam film, bisa dikutip dari beberapa quotes yang diucapkan para aktor. Seperti ketika Joan Clarke mengatakan “Now, if you wish you could have been normal… I can promise you I do not. The world is an infinitely better place precisely because you weren’t.,” yang tentunya mengartikan bahwa menjadi unik dan berbeda justru terkadang adalah hal yang terbaik. Atau quotes lain dari Alan Turing saat berkata “Do you know why people like violence? It is because it feels good. Humans find violence deeply satisfying. But remove the satisfaction, and the act becomes… hollow,” yang menunjukan sebagian orang memang senang membuat kekacauan demi kepuasan dari reaksi kekacauan yang dibuatnya.
Tak heran jika film ini menyabet 39 penghargaan di berbagai festival film Internasional.The Imitation Game juga telah dinominasikan dalam delapan kategori untuk piala Oscaar di Academy Awards 2015. The Imitation Game pastinya jadi salah satu film yang wajib anda nonton terutama bagi penggemar film drama juga film based-true-story. Tunggu tanggal main The Imitation Game di bioskop-bioskop kesayangan anda bulan Januari ini.
5
Tanggal Rilis: 17 Januari 2015 (Indonesia, midnight)
Genre: Historical Thriller
Durasi: 114 menit
Sutradara: Morten Tyldum
Pemain: Benedict Cumberbatch, Keira Knightley, Matthew Goode, Mark Strong, Charles Dance, Allen Leech, Matthew Beard, Rory Kinnear
Studio: Black Bear Pictures, Bristol Automotive

source: jagatreview.com

Sinopsis Fury 2014

 Staring into the distance, a disheveled soldier stands in front of a tank, with "Fury" written on the barrel and other soldiers leaning/sitting on it.
Fury adalah sebuah film 2014 perang Amerika yang ditulis dan disutradarai oleh David Ayer. Film ini dibintangi Brad Pitt, Shia LaBeouf, Logan Lerman, Michael Peña, dan Jon Bernthal. Film ini menggambarkan awak tank selama hari-hari terakhir Perang Dunia II di Eropa. Ayer dipengaruhi oleh pelayanan veteran dalam keluarganya dan dengan membaca buku, seperti Belton Y. Cooper Kematian Perangkap, tentang peperangan lapis baja Amerika dalam Perang Dunia II. Ayer bertujuan untuk tingkat yang lebih besar realisme dalam film daripada di drama Perang Dunia II lainnya.


Latihan dimulai pada awal September 2013 di Hertfordshire, Inggris diikuti dengan fotografi pokok pada tanggal 30 September 2013, di Oxfordshire. Syuting berlangsung selama satu bulan setengah di lokasi yang berbeda, yang termasuk kota Oxford, dan menyimpulkan pada 13 November Fury dirilis pada 17 Oktober 2014. Film ini mendapat review positif dari kritikus dan terbukti sangat sukses di kotak office terlaris lebih $ 208.000.000.


Sebagai Sekutu membuat dorongan terakhir mereka ke Nazi Jerman, pertempuran-mengeras US Army Staf Sersan di ke-66 Lapis Baja Resimen, Divisi Lapis Baja ke-2 bernama Don "Wardaddy" Collier perintah tangki M4A3E8 Sherman bernama Fury dan lima orang yang, semua veteran kru: penembak Boyd "Bible" Swan; loader Grady "Coon-Ass" Travis; dan sopir Trini "Gordo" Garcia. Tangki asli asisten driver / busur penembak, "Red", telah tewas dalam pertempuran. Penggantinya adalah pengetik Angkatan Darat baru-baru terdaftar, Norman Ellison, yang tidak melihat bagian dalam tangki atau mengalami kerusakan akibat perang. Norman akhirnya mendapatkan julukan "Mesin", yang diberikan kepadanya oleh Grady Travis. Sementara di sebuah pangkalan operasi depan, ia mengungkapkan bahwa Wardaddy sangat membenci Waffen-SS, yang ditunjukkan saat ia melecehkan seorang perwira SS tawanan yang terluka sebelum memberitahu Norman untuk membunuh setiap satu dari mereka yang dilihatnya.

Awak yang masih hidup, yang telah bersama-sama sejak Kampanye Afrika Utara, meremehkan merekrut baru setelah bertemu dengannya, baik karena kurangnya pengalaman dan keengganannya untuk membunuh Jerman, terutama remaja dari Hitlerjugend; keputusan yang mengakibatkan kematian pemimpin peleton mereka, Letnan Parker, dan penghancuran tank dan krunya. Dalam upaya untuk 'mendidik' dia dengan realitas perang, Wardaddy marah menuntut Norman membunuh artileri Jerman tawanan. Ketika Norman menolak, Wardaddy memaksa pistol ke tangannya dan membuat dia membunuh tahanan.

Ikatan antara Norman dan Wardaddy menjadi lebih kuat setelah menangkap sebuah kota kecil Jerman. Mencari rumah, Wardaddy dan Norman menemukan seorang wanita Jerman, Irma, dan sepupunya Emma. Norman kemudian tertinggal pintu tertutup di kamar tidur dengan Emma. Setelah mereka keluar dari kamar tidur, empat kemudian duduk dan sarapan bersama-sama, tapi awak tank tongkang di, kasar menggoda perempuan dan kemarahan Wardaddy dan Norman. Tak lama setelah itu, pemboman Jerman memukul kota, membunuh Emma dan beberapa pasukan Amerika. Ini, ditambah dengan mengamati tentara mundur Jerman membakar kota mereka sendiri dan kekejaman mereka menunjukkan ke Jerman lain yang tidak berjuang untuk Wehrmacht, mengeras Norman. Dia mengaku Wardaddy bahwa ia sudah mulai menikmati membunuh tentara Nazi.

Sebuah peleton dari empat tangki, yang dipimpin oleh Fury, menerima perintah untuk mengadakan persimpangan penting, melindungi jalan yang jelas untuk memasok kereta dan sebuah kamp penuh perawat sekutu dan perlengkapan belakang eselon tentara (peta menunjukkan Emmerthal selatan dari Hameln, di mana kereta api dari distrik Ruhr ke Hanover melintasi sungai Weser). Dalam perjalanan ke persimpangan, mereka disergap oleh berat-bersenjata Jerman Tiger I, yang dengan cepat menghancurkan salah satu tank. Sisa tiga tank enggan menyerang tank Jerman, mengetahui mereka persenjataan. The Sherman muka dan berusaha untuk mengepung Tiger, tapi dua Sherman lainnya hancur sebelum mereka bisa membuatnya. Dengan beberapa manuver yang menentukan dan berpengalaman, Fury mendapat belakang Tiger di mana baju besi adalah lemah, dan menghancurkan itu. Mencatat Alkitab yang ia percaya mereka terhindar karena suatu alasan dan orang-orang melanjutkan ke persimpangan jalan, mengetahui bahwa mereka adalah satu-satunya tangki tersisa untuk melindungi kamp di jalan. Kerusakan dari hasil pertempuran tank di Fury kehilangan kontak radio.

Saat mereka mencapai persimpangan, tangki bergerak ketika hits ranjau darat. Mereka segera menyadari sebuah perusahaan diperkuat dari tiga ratus Waffen-SS infanteri mekanis yang telah kehilangan mereka setengah-trek dan truk menuju jalan mereka. Para kru awalnya ingin meninggalkan tangki dan melarikan diri dengan berjalan kaki, tapi Wardaddy menolak untuk pergi. Para kru, tidak ingin meninggalkan pemimpin mereka, memutuskan untuk tinggal dan merencanakan penyergapan.

Bergerak, kalah jumlah dan persenjataan, Wardaddy dan anak buahnya tetap menimbulkan kerugian besar pada Jerman menggunakan kedua tangki dan senjata kru, Wardaddy menggunakan ditangkap Jerman Sturmgewehr 44 senapan serbu sebagai senjata panjang, selain M1917 .45- revolver kaliber . Ketika mereka terus berjuang dan mulai berjalan rendah amunisi, satu per satu, Grady, Gordo dan Alkitab semua tewas dan Wardaddy yang serius terluka oleh sniper SS menggunakan senapan Karabiner 98k. Norman dan Wardaddy mundur kembali ke dalam tangki di mana mereka berbagi kata-kata terakhir mereka. Ketika tentara SS turun dua Model 24 granat tongkat Stielhandgranate ke dalam tangki, Wardaddy, terluka dan tidak bisa bergerak, perintah Norman untuk melarikan diri melalui menetas darurat bawah tangki. Norman lolos sebagai anggota kru yang masih hidup terakhir dan bersembunyi di kawah parsial sebelumnya dibuat oleh ledakan ranjau darat. Granat kemudian meledakkan, membunuh Wardaddy. Seorang pemuda polisi Waffen-SS menemukan Norman bawah tangki hancur tetapi tidak melaporkannya. Norman terus bersembunyi sebagai tentara Jerman yang masih hidup bergerak, tampaknya terlalu lemah untuk membahayakan kamp sekutu melewati persimpangan jalan.

Keesokan paginya, pasukan Angkatan Darat AS menemukan Norman dan katakan padanya bahwa tindakan tangki awak yang heroik. Seperti Norman sedang diangkut ke tempat yang aman, dia melihat kembali pada pembantaian ratusan mati Jerman pasukan SS sekitar sisa-sisa hancur Fury.

source: en.wikipedia

Sinopsis 21 Jump Street 2013

  http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/thumb/9/93/21JumpStreetfilm.jpg/215px-21JumpStreetfilm.jpg
21 Jump Street adalah sebuah aksi komedi Amerika Serikat yang disutradarai oleh Phil Lord dan Chris Miller dan dibintangi oleh Channing Tatum dan Jonah Hill. Film ini diangkat dari serial televisi tahun 1987 berjudul sama yang dibintangi oleh Johnny Depp.


Greg Jenko (Channing Tatum) dan Morton Schmidt (Jonah Hill) saling bermusuhan sejak SMA, sampai mereka berdua diterima di Instansi Kepolisian yang menjadikan mereka berdua sebagai sahabat karib. Saat mereka berdua menangkap geng motor yang sedang bertransaksi narkoba, mereka berhasil menangkap seorang penjahat dengan cara yang konyol. Sayangnya, bukan pujian yang mereka dapat setelah berhasil menangkap penjahat tersebut, mereka diomeli komandan karena tidak mengucapkan hak-hak tersangka saat menangkapnya.
Keduanya lalu mendapat tugas khusus, yaitu melakukan penyamaran di SMA. Target mereka adalah para pengedar narkoba di sekolah-sekolah yang mengincar para siswa. Mau tidak mau, keduanya harus kembali ke bangku sekolah. Hanya supaya kelihatan keren, Jenko memukul seorang siswa hanya karena masalah kecil. Keduanya pun harus berhadapan dengan guru dan langsung diancam akan dikeluarkan jika berbuat onar lagi.
Mengingat misi yang harus mereka laksanakan, mereka berpura-pura menjadi pembeli narkoba dan malangnya, saat melakukan transaksi ini, mereka dipaksa memakan narkoba yang mereka pesan. Mereka berusaha memuntahkannya, tapi tidak berhasil. Efeknya langsung bereaksi, Schmidt tiba-tiba sangat percaya diri dan mendapat aplaus dalam kelas drama. Sedangkan Jenko malah menghancurkan alat musik.
Sejak saat itu, mereka makin lancar mendapat pasokan narkoba. Bukti-bukti tersebut kemudian dibawa ke markas untuk ditindak lanjuti. Schmidt bahkan berteman dengan Eric (Dave Franco), siswa pengedar narkoba dan mereka berdua dipercaya untuk jadi pengawal dalam transaksi yang lebih besar pada saat malam perpisahan sekolah.
Saat transaksi akan berlangsung, alangkah terkejutnya mereka ketika tahu siapa lelaki yang akan berbelanja narkoba dalam jumlah banyak tersebut. Ternyata ia adalah guru yang beberapa waktu lalu menghadang mereka saat dalam pengaruh narkoba. Bersamaan dengan itu, hadir pula sekelompok geng motor yang dulu berusaha mereka tangkap dengan tujuan yang sama. Malang bagi Schmidt, ia bisa dikenali sehingga identitas mereka sebagai polisi terbongkar. Tembak menembak pun akhirnya terjadi.Kemudian, lewat aksi kejar-kejaran mobil di jalan raya, Jenko dan Schmidt pun akhirnya berhasil melumpuhkan si pengedar narkoba.

source: id.wikipedia

Sinopsis Alexander The Terrible, Horrible, No Good, Very Bad Day 2014

 http://upload.wikimedia.org/wikipedia/en/5/5f/Alexander_and_the_Terrible%2C_Horrible%2C_No_Good%2C_Very_Bad_Day_poster.jpg
Alexander dan buruk, mengerikan, tidak ada yang baik, hari yang sangat buruk adalah film komedi Amerika 2014 disutradarai oleh Miguel Arteta dari skenario yang ditulis oleh Rob Lieber. Film ini dibintangi Steve Carell, Jennifer Garner, dan Ed Oxenbould, dan didasarkan pada buku 1972 anak-anak Judith Viorst dengan nama yang sama. Co-diproduksi oleh 21 Laps Hiburan dan The Jim Henson Company, film ini dirilis oleh Walt Disney Pictures pada 10 Oktober 2014.



Film ini mengikuti eksploitasi dari Alexander Cooper (Ed Oxenbould), seorang anak 11 tahun biasa, dan "mengerikan, mengerikan, tidak baik, hari yang sangat buruk." Dia ditinggalkan oleh keluarganya; kakaknya, Anthony (Dylan Minnette), kakaknya, Emily (Kerris Dorsey), ibunya, Kelly (Jennifer Garner), ayahnya, Ben (Steve Carell), dan bayi saudaranya, Trevor (Elise / Zoey Vargas) .

Sehari sebelum ulang tahun kedua belas Alexander, dia bangun dan menemukan permen karet di rambutnya dan klip off dengan gunting. Anthony sedang mencoba untuk mendapatkan SIM-nya sehingga ia dapat mendorong pacarnya, Celia (Bella Thorne), untuk prom, Emily berlatih untuk peran judul dalam drama sekolah nya Peter Pan, Kelly bekerja untuk sebuah perusahaan publikasi yang publishing buku anak-anak baru, dan Ben, yang telah menganggur selama beberapa bulan, telah mendarat wawancara kerja sebagai desainer game untuk sebuah perusahaan video game.

Pagi yang sama, Alexander menghadiri sekolah di mana ia mengalami serangkaian kemalangan lain, serta mengetahui bahwa teman-temannya, termasuk menghancurkan nya, Becky Gibson (Sidney Fullmer), dan teman, Paul (Mekai Curtis), semua akan menghadiri ulang tahun partai Phillip Parker (Lincoln Melcher) bukan nya, karena hiburan pesta mahal Philip dan popularitas. Dia mencoba untuk memberitahu keluarganya bagaimana sedih zamannya telah pergi, namun tidak satupun dari mereka bahkan mendengarkan apa yang dia katakan. Malam itu, Anthony mengganggu Celia selama panggilan telepon saat berteriak Alexander mengatakan ia adalah "saudara idiot", dan Emily berlatih baris panggung di Kelly Volvo sementara meninggalkan cahaya pada. Alexander membuat dirinya ulang tahun sundae darurat dan berharap keluarganya bisa mengalami kekecewaan yang dia lakukan setiap hari.

Keesokan paginya, Alexander bangun untuk menemukan keluarganya berantakan; orang tuanya telah ketiduran, Emily memiliki dingin, dan Anthony telah menemukan bahwa ia dan Celia putus. Baterai mobil Kelly mati, karena Emily meninggalkan cahaya pada sepanjang malam sambil berlatih, karena itu Ben harus mengambil Trevor dengan dia untuk wawancara setelah mengantar Kelly off di tempat kerja. Di sekolah, Alexander mengatakan bahwa Philip telah membatalkan pesta ulang tahunnya karena sakit, dan panggilan ayahnya, memintanya untuk merencanakan pesta untuknya. Kelly informasi dari typo memalukan dalam buku mereka mempublikasikan, dan perlu berhenti Dick Van Dyke dari membaca itu pada bacaan masyarakat nantinya. Ben mengambil Trevor bersama untuk wawancara kantor dan bertemu Greg (Donald Glover) yang tampaknya terkesan pada surat kepercayaan, meskipun pertemuan dipotong pendek setelah Trevor ingests stabilo. Sementara di sekolah, Anthony menemukan bahwa Celia telah kembali dengan dia. Anthony sangat senang dengan apa yang terjadi, ia melompat dan sengaja menampar spanduk yang dipegang oleh dua display trofi kasus antara dirinya, menyebabkan mereka jatuh dan menghancurkan, yang mengarah ke gurunya membawanya ke kantor kepala sekolah dan menangguhkan dirinya.

Kelly berhasil tiba di membaca Dick Van Dyke, tapi dia tidak mampu untuk memperingatkan dia tentang typo buku. Dia membacanya dengan materi yang tidak pantas, mempermalukan dirinya sendiri dan perusahaan penerbitan. Sementara itu, Ben telah membeli sirup obat batuk untuk gejala memburuk Emily dan mengambil Anthony ke Departemen Kendaraan Bermotor, di mana instruktur mengemudi sengaja mengalihkan perhatian dia, menyebabkan dia untuk menghancurkan beberapa meter parkir, buruk merusak mobil keluarga, dan gagal ujian mengemudi. Alexander mengaku bahwa hari keluarga itu membawa sial karena keinginan sakit nya malam sebelumnya, dan meminta maaf, tapi Ben mengatakan "Permintaan maaf tidak diterima" karena mereka masih dapat memiliki beberapa baik di dalamnya. Setelah itu, mereka semua pergi ke bermain Emily, yang secara tidak sengaja disabotase oleh perilaku gangguan nya karena overdosis nya pada sirup obat batuk. Perusahaan desain game panggilan Ben dan meminta dia untuk bertemu mereka di sebuah restoran hibachi Jepang untuk pertemuan lain. Keluarga, bergabung dengan Celia dan teman-temannya, pergi ke restoran di mobil mereka rusak parah, di mana Ben sengaja menetapkan kemejanya terbakar di panggangan, memalukan dia ke majikan. Seluruh keluarga konsol dia, mengakui bahwa mereka akan mengatasi apa pun hari telah di toko untuk mereka. Alexander menyatakan, "Anda hanya harus memiliki hari yang buruk sehingga Anda bisa mencintai hari-hari yang baik bahkan lebih", dan Anthony tiba-tiba memutuskan untuk tidak pergi ke prom dengan Celia, yang menyatakan bahwa keluarganya lebih penting dan mereka juga putus sama sekali.

Keluarga pulang ke rumah, dan menemukan bahwa Ben telah menyewa layanan hewan sewa untuk menciptakan sebuah kebun binatang Australia untuk pesta ulang tahun Alexander. Mereka kemudian memutuskan untuk menyingsingkan lengan baju untuk mencoba dan menyelamatkan hari dengan membantu tuan rumah itu. Ben dan Kelly menerima kabar baik: ia mendapat disewa untuk pekerjaan desain permainan, dan dia telah diberitahu bahwa membaca selebriti pergi virus dan telah menciptakan publisitas untuk buku. Reunited, Ben kemudian membawa keluar kue, dengan Alexander berharap untuk hari lagi seperti yang mereka berbagi bersama-sama.


Sumber : http://en.wikipedia.org
Source