Pages

Monday, 16 February 2015

JagatPlay: Game of the Year 2014


jagat-game-of-the-year
Tidak terasa, kita sudah hampir melewati 365 hari yang terhitung fenomenal untuk industri game tahun ini. Terasa lebih istimewa dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, tahun 2014 memang pantas untuk menyandang predikat sebagai salah satu tahun terbaik yang pernah dimiliki oleh industri game. Bagaimana tidak? Selama kurun waktu 12 bulan ini, gamer tidak hanya dihidangkan dengan segudang franchise anyar yang baru hendak membangun popularitas, tetapi juga seri-seri terbaru dari franchise raksasa yang sudah begitu diantisipasi.  Apalagi dengan kehadiran dua konsol generasi terbaru – Playstation 4 dan Xbox One yang kian matang. Tidak perlu diragukan lagi, tahun ini adalah salah satu tahun terlengkap dan termanis untuk para gamer sebagai sebuah komunitas. Lantas, siapa yang pantas menyandang gelar sebagai yang terbaik? Berikut adalah pilihan kami.
Untuk  membuat penilaian yang lebih objektif dan adil, JagatPlay akan membaginya ke dalam berbagai kategori yang didasarkan pada genre dan berbagai elemen dasar yang membentuk sebuah game. Kami juga menyertakan alasan pemilihan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengapa game-game ini berhasil memenangkan setiap kategori yang ada. Pemilihan pemenang tentu saja didasarkan pada game-game yang pernah kami jajal secara langsung, baik yang sempat kami review maupun tidak sempat kami luncurkan dalam bentuk review. Satu yang pasti, semua game yang masuk ke dalam list pemenang ini memang berhasil meninggalkan kesan yang kuat dan pengalaman unik tersendiri. Bagi Anda, ini bisa menjadi list “must play”, apalagi bagi Anda yang bahkan pernah mendengar nama tersebut sebelumnya.
Jadi game apa saja yang masuk dalam kategori JagatPlay’s Best Games of 2014 ini? Here we go:

Best Console Exclusive: Bayonetta 2

Bayonetta 2 PART 2 jagatplay (37)
Tahun 2014 adalah tahun untuk Nintendo Wii U, kalimat yang satu ini memang tidak bisa lagi terbantahkan. Setelah harus berkutat dengan dua tahun yang vakum game-game keren, Nintendo melemparkan semua senjata utamanya tahun ini. Salah satunya? Bayonetta 2. Seri terbaru ini secara mengejutkan melemparkan semua hal yang Anda cintai dari sang seri pertama dan menyempurnakannya. Desain Bayonetta yang lebih baik, cerita yang tetap gila, karakterisasi yang kuat, dengan gameplay yang juga tetap fun dan menantang di saat yang sama, Bayonetta 2 pantas menyandang predikat sebagai game eksklusif untuk konsol terbaik tahun ini. Ia menawarkan sensasi sebuah game action yang mungkin sudah lama hilang. Bahwa video game terkadang tidak perlu rasional dan mampu menawarkan Anda pengalaman yang epik dengan kombinasi desain yang optimal. Bayonetta 2 menjadi contoh terbaik akan proses tersebut.

Best Remaster: Grand Theft Auto V

Grand Theft Auto V_20141118205711
Dengan maraknya kebijakan yang satu ini, menjadi sesuatu yang rasional bagi JagatPlay untuk menambahkan kategori yang satu ini. Berkutat dengan banyak game HD Remaster dan Remake tahun ini, terhitung hanya sedikit developer yang berhasil membuktikan bahwa menjadi sesuatu yang sangat pantas untuk melirik dan membeli game-game yang mereka racik ulang. Yang terbaik? Tentu datang dari tangan dingin Rockstar yang akhirnya merilis GTA V ke platform generasi terbaru. Dunia yang jauh lebih padat, visualisasi lebih baik berkat tekstur definisi tinggi, dan tambahan musik baru jadi pesona yang mumpuni. Namun kekuatan utamanya tentu terletak pada implementasi First Person Mode yang berjalan begitu optimal. Tambahan mode dengan setting yang cukup melimpah ini menjadi nilai jual ekstra, menawarkan pengalaman GTA V yang berbeda dan layak untuk dinikmati kembali. Bagian terbaiknya? Untuk memastikan mode ini berjalan sempurna, Rockstar juga menambahkan begitu banyak detail untuk menciptakan atmosfer yang lebih imersif, dari hal yang besar hingga elemen kecil yang mungkin tidak pernah Anda pikirkan sebelumnya. Sebagai contoh? “Warna” dunia yang berbeda ketika Anda menggunakan kacamata atau helm dengan warna tint yang berbeda.

Best Multiplayer: Titanfall

Titanfall JagatPlay (172)
Titanfall saat ini memang tengah berhadapan dengan masalah klasik yang sudah pasti dihadapi semua game yang mendasarkan diri pada pengalaman multiplayer online, semakin kecilnya komunitas seiring dengan waktu rilis. Walaupun demikian, ini tidak lantas mencederai fakta bahwa ia merupakan game dengan multiplayer online terbaik tahun ini! Ada tiga alasan yang mendasari pilihan kami. Pertama, ia menawarkan gameplay seperti yang ia janjikan, pertempuran yang seimbang dan epik, baik ketika Anda berperan sebagai mecha ataupun sekedar pilot. Kedua, ia sama sekali tidak mengalami masalah rilis awal yang terjadi di sebagian besar game yang lain. Semua gamer Titanfall sudah bisa menikmati game ini sejak awal rilis, tanpa masalah, memperlihatkan kesiapan Respawn sebagai developer. Ketiga? Bahwa tidak ada hype yang melenceng sama sekali. Ia menawarkan semua hal lugas sesuai dengan apa yang ia iklankan selama ini. Ia tetap membuktikan diri sebagai game multiplayer unik, dengan gameplay cepat yang fun, pastinya.

Worst Game of the Year: Rambo – The Video Game

Rambo The Video Game (33)
Tidak memiliki ruang yang lebih baik lagi untuk award yang satu ini, kata “Best” tampaknya juga sejalan dengan “Worst”, untuk memberikan “penghargaan” untuk game dengan kualitas terburuk saat ini. Ia memang tidak tampil mengecewakan karena kami sendiri tidak menaruh banyak harapan, namun jika ada satu game yang harus Anda hindari tahun ini, maka Rambo: The Video Game pantas jadi peringkat paling pertama. Lupakan semua hal yang pernah Anda ingat dari epiknya film action ia tawarkan, karena Rambo: The Video Game berhasil menghancurkan semua impian tersebut. Alih-alih tampil sebagai game FPS atau Third Person, ia justru menawarkan gameplay ala Time Crisis yang super tidak nyaman untuk dimainkan dengan kontroler maupun keyboard. Penuh QTE, animasi yang buruk, detail tekstur yang mengundang tawa, Rambo – The Video Game masih tetap pantas menyandang predikat sebagai lelucon terbaik untuk tahun 2014 ini.

Best Graphic Quality: P.T.

P.T._20140813174053
Konami memang sudah lama mengkonfirmasikan bahwa proyek generasi terbaru mereka akan menjadikan Fox Engine racikan Hideo Kojima sebagai engine utama. Muncul pertama di PES 2014 dan diikuti MGS V: Ground Zeroes, tidak banyak hal yang bisa dipuji dari engine ini terlepas dari hype yang ada. Ia memang membuat game-game hadir dengan detail yang baik, namun tidak terlihat memesona. Namun, hal yang berbeda terjadi di P.T. – sebuah game pendek yang diposisikan sebagai teaser untuk game teranyar Silent Hils. Untuk pertama kalinya, Fox Engine memperlihatkan tajinya sebagai engine generasi terbaru yang ternyata, tampil sangat luar biasa ketika berfokus pada visualisasi indoor. P.T adalah game dengan visual terbaik sejauh ini, dengan detail tekstur, tata cahaya, dan suara yang begitu realistis – hingga Anda seperti tengah memandang sebuah potret dunia nyata, berulang dan berulang. Ia menetapkan standar yang sangat tinggi untuk sebuah game generasi terbaru.

Best Story: This War of Mine

This War of Mine jagatplay
Perang bukanlah taman bermain seperti yang selama ini diproyeksikan oleh game-game raksasa mainstream. Bahwa ia justru menjadi ladang tragedi yang penuh dengan kondisi dan pilihan-pilihan sulit, kehancuran, kematian, dan rasa putus asa. Hal inilah yang ingin diproyeksikan oleh game indie dari 11 Bit Studios – This War of Mine, dan mereka melakukan hal tersebut dengan sangat baik. Walaupun hadir dengan gameplay simulasi yang cukup memeras otak, namun esensi tersebut dapat ditangkap lewat desain setting yang harus Anda hadapi ketika bertahan hidup. Narasi dibangun dari imajinasi dan pilihan aksi yang Anda lakukan, tanpa menawarkannya secara eksplisit kepada Anda sendiri. Semua trauma fisik, psikologis, dan pilihan yang membuat Anda mempertanyakan nilai moral Anda sendiri ketika berada dalam situasi genting jadi nilai jual tersendiri. Anda akan merangkai sebuah kisah yang menggelitik otak dan hati dari pilihan Anda sendiri.

Best RPG: Dragon Age – Inquisition

Dragon-Age-Inquisition-part-2-Jagatplay-60-600x337
Tidak perlu meragukan Bioware. Setelah kritik yang cukup pedas terhadap Dragon Age 2, Bioware akhirnya memastikan bahwa franchise RPG andalannya – Dragon Age kembali ke posisi puncak sebagai game RPG terbaik untuk tahun 2014 ini. Mereka meracik semua hal yang Anda sukai dari dua seri awalnya, memperluas setting, dan menyuntikkan segudang side-quest yang cukup menarik untuk membuat Anda menghabiskan waktu tanpa terasa. Setiap momen berjalan dengan epik, apalagi dengan kesempatan untuk benar-benar berperan sebagai seorang Inquisitor dari sisi gameplay, dan bukan sekedar title tanpa makna. Membangun pasukan Anda sendiri, menentukan nasib dari orang yang Anda tangkap, terlibat dalam intrik politik, hingga pertempuran epik melawan 10 naga raksasa yang menantang jadi nilai jual. Ia mengembalikan jati diri sebuah game yang siap untuk membuat Anda melewatkan puluhan jam dengan penuh rasa puas.

Best MMO: Final Fantasy XIV – A Realm Reborn

Final Fantasy XIV - ARR JagatPlay (98)
Sedikit terlambat memang, namun kami sendiri akhirnya berkesempatan mencicipi Final Fantasy XIV: A Realm Reborn setelah ia dirilis untuk Playstation 4. Untuk sebuah game MMORPG yang menyandang nama “Final Fantasy” di dalamnya, A Realm Reborn berhasil membuktikan diri mengapa ia pantas diposisikan sebagai sebuah game MMO dengan sistem langganan bulanan. Konten yang begitu masif, kebebasan untuk menciptakan karakter dengan preferensi pribadi Anda, visual yang memesona, presentasi dunia Final Fantasy yang begitu optimal, hingga pertempuran epik dalam sistem Raid jadi salah satu nilai jual utama. Ada begitu banyak aktivitas yang bisa Anda lakukan di sini, ada setiap detiknya terbayarkan begitu manis.

Best Sports: FIFA 15

FIFA 15 Intros (In Menus)
Untuk persaingan tahun 2014 ini, FIFA 15 tampaknya pantas diposisikan sebagai game olahraga terbaik lewat segudang nilai jual yang akhirnya ia tawarkan. Untuk sebuah game olahraga yang sudah memantaskan diri lewat implementasi kualitas visual dan fitur yang cukup kaya di tahun sebelumnya, FIFA 15 kian berhasil menyempurnakan hal tersebut. Walaupun ia harus bersaing dengan PES 2015 yang akhirnya menuju platform generasi terbaru, FIFA 15 masih punya satu senjata utama – versi PC yang akhirnya mendapatkan adaptasi engine Ignite. Gameplay fun, atmosfer yang begitu luar biasa, animasi gerak pemain yang kian mendekati realistis, dan lengkapnya lisensi kian mengukuhkannya tidak hanya sebagai game sepakbola terbaik saja, tetapi juga game olahraga paling ciamik untuk tahun ini.

Best Fighting: Super Smash Bros for Wii U

Super Smash Bros Wii U part 2 (16)
Game Fighting selama ini selalu diasosiasikan sebagai genre super kompleks yang menuntut Anda untuk mengingat, mengeksekusi, dan mempelajari kombinasi serangan tersendiri. Bayangkan jika konsep ini diluluhlantakkan dan dibangun ulang dengan pendekatan yang boleh terbilang, bertentangan? Hal inilah yang dilakukan Nintendo dengan Super Smash Bros. Tidak hanya berhasil melebur semesta game klasik yang terlihat mustahil dalam bentuk karakter, setting, dan musik sembari tetap mempertahankan identitas franchise originalnya, Nintendo juga berhasil mendesain sebuah mekanisme gameplay sederhana yang membuatnya bisa diakses baik oleh gamer casual maupun hardcore. Sebuah game fighting yang siap untuk membuat Anda dan teman-teman saling berteriak, mengumpat, sekedar meluapkan kesenangan, hingga berkompetisi secara serius. Semua eksekusi tersebut berjalan sangat sempurna, pastinya, menjadikannya sebagai salah satu game fighting paling menyenangkan yang pernah kami cicipi.

Best Male Character: Pagan Min

Far Cry 4 JagatPlay
Anda tidak perlu penuh tato, membawa pedang tajam, dan ekstra senjata mesin untuk membuat orang takut pada Anda. Inilah citra yang boleh terbilang, tercermin oleh diktator asal Kyrat – Pagan Min. Pilihan fashionnya sendiri mengundang tanya, namun Ubisoft harus diakui, berhasil mengeksekusi karakterisasinya dengan sangat baik. Pagan Min bukanlah tipikal karakter antagonis yang selama ini diproyeksikan oleh video game. Ia tidak pernah membuat tangannya sendiri kotor, namun punya karisma yang cukup kuat untuk membuat siapapun, bertekuk lutut. Ada yang unik dari setiap percakapan yang ia lontarkan via radio lewat suara beratnya yang unik. Ia terasa seperti seorang ayah yang tampaknya mengerti mengapa sang anak kesayangannya memilih untuk nakal dan membangkang, namun tidak segan untuk mengakhiri nyawa mereka jika dibutuhkan. Tanpa Pagan Min, Far Cry 4 akan terasa hambar.

Best PC Exclusive: Divinity – Original Sin

Divinity Original Sin part 2 (40)
Dengan arsitektur yang hampir serupa satu sama lain, hampir sebagian besar game yang dirilis di Playstation 4 dan Xbox One saat ini juga akhirnya tiba di PC. Membahagiakan memang, namun di sisi lain – kian membuat posisi game eksklusif PC semakin menipis. Untungnya, PC masih punya ekstra satu senjata utama, sebuah game yang siap untuk menawarkan pengalaman yang tidak akan bisa didapatkan oleh game konsol saat ini. Benar sekali, kita tengah membicarakan Divinity: Original Sin – sebuah game RPG yang akhirnya benar-benar membawa level “role-playing” ke level yang lebih tinggi. Sebuah game RPG super menantang yang tidak hanya menuntut Anda untuk berencana dan berstrategi untuk menang di setiap pertempuran, tetapi juga menawarkan kesempatan untuk beraksi secara rasional ketika dihadapkan pada situasi tertentu. Ia adalah sebuah game RPG yang sudah pasti tidak boleh terlewatkan, apalagi jika Anda memimpikan sebuah konsep yang lebih kompleks.

Best Racing: Mario Kart 8

Mario Kart 8 - jagatplay (259)
Untuk kesekian kalinya, Nintendo Wii U kembali mendominasi award JagatPlay tahun ini. Wii U berhasil membuktikan bahwa visual bukanlah segalanya, bahwa gameplay yang fun akan cukup untuk membuat Anda jatuh hati pada proyek apapun yang mereka tawarkan. Sebagai contoh? Game racing terbaik tahun ini – Mario Kart 8! Sebuah konsep game racing super fun yang menghadapkan Anda pada sebuah dunia indah dengan visualisasi memesona, serta gameplay yang akan membuat Anda jatuh hati, baik ketika aura fun Anda lebih kuat ataupun jika Anda memang befokus berkompetisi. Ditambah dengan music-music super keren yang menghiasinya, Mario Kart 8 tanpa tandingan, menjadi salah satu alasan utama mengapa Anda harus melirik Wii U.

Best Music: Transistor

Transistor - JagatPlay (90)
Sebagai salah satu ujung tombak elemen untuk membangun atmosfer yang lebih baik, music memang tidak pernah bisa dipisahkan dari unsur yang membentuk pengalaman bermain yang Anda dapatkan. Ia akan membuat sebuah scene yang mungkin terlihat biasa menjadi sesuatu yang epik, sesuatu yang standar terasa begitu emosional dan menggugah. Dari semua game yang dirilis di tahun 2014 ini, Transistor dari Supergiant Games pantas menyandang predikat sebagai game dengan list music terbaik. Ia melengkapi dengan sempurna tema utama dunia dan cerita Transistor itu sendiri, menawarkan pengalaman emosional tersendiri, terutama dari kacamata sang karakter utama yang diposisikan sebagai seorang penyanyi. Music ini seolah mampu menangkap ketakutan, kecemasan, namun di sisi lain – determinasi dan rasa berani dari petualangan atas nama balas dendam yang Anda jalankan.

Best Strategy: Banished

banished1
Apa yang Anda harapkan dari sebuah game yang hanya diracik oleh satu orang saja? Kita semua tahu bahwa membangun video game bukanlah proses yang mudah, dan butuh kerja keras banyak orang. Namun, tidak dengan Banished. Kerennya lagi? Ia bahkan pantas menyandang predikat sebagai game strategy terbaik tahun ini, mengalahkan nama besar seperti Civilization: Beyond Earth sekalipun. Secara visual ia memang terlihat sederhana, namun kompleksitas gameplay yang ia tawarkan bukan main-main. Ada kesenangan tersendiri melihat kota kecil yang Anda bangun mulai ramai dan berkembang, apalagi dengan kompleksitas masalah yang juga semakin berkembang. Berusaha bertahan hidup dari terjangan alam yang begitu keras sembari memastikan semua resource terkelola dengan baik, Banished seolah memenuhi mimpi dan rindu para gamer penggemar genre ini yang butuh sentuhan lebih klasik.

Best Female Character: Bayonetta

Bayonetta 2 jagatplay (21)
Industri game mulai bergerak pada satu tren yang cukup positif – bahwa karakter wanita kini diproyeksikan setara dengan karakter laki-laki. Bahwa mereka yang wanita tidak lagi sekedar menjadi korban dan subjek yang harus diselamatkan, tetapi justru beraksi aktif dan mampu menyelamatkan dunia. Tidak percaya? Tanyakan saja pada Bayonetta yang kini bahkan tampil lebih sensual lewat pilihan pakaian dan potongan rambutnya yang baru. Voice acts yang mumpuni, kepribadian yang kuat namun tidak mengancam, namun di sisi lain – tetap mempertahankan daya tarik seksualnya adalah alasan mengapa Bayonetta pantas menjadi karakter game wanita terbaik untuk tahun 2014. Karakter wanita mana lagi yang pernah Anda lihat pernah menendang pesawat jet keluar lintasan? Tidak pernah? Now you know why we love Bayonetta..

Best Action-Adventure: Shadow of Mordor

Shadow of Mordor JagatPlay (74)
Akhirnya, sebuah motor pendorong yang sudah lama dinantikan, kalimat yang satu ini pantas untuk mendefinisikan mengapa Shadow of Mordor pantas untuk menyandang predikat sebagai game action adventure terbaik tahun ini. Alih-alih terjebak pada usaha untuk sekedar menjual nama besar semesta Lord of the Rings dan membangun gameplay standar dari sana, sang developer – Monolith memutuskan untuk bereksperimen, menyuntikkan sebuah mekanik gameplay inovatif yang belum pernah ada di industri game sebelumnya – Nemesis System. Ia membuat setiap pertempuran Anda melawan para Orc menjadi unik dan berbeda, dan bisa berujung pada konsekuensi tertentu, meracik kisah Talion Anda sendiri. Dipadukan dengan visualisasi Mordor yang begitu kelam dan menyeramkan, Shadow of Mordor menetapkan standar yang cukup tinggi untuk bisa ditundukkan oleh game lain yang berusaha masuk ke pasar serupa.

Best Platformer: Shovel Knight

Shovel Knight (8)
Platformer perlahan namun pasti mulai menemukan popularitasnya kembali di industri game, melihat tren game indie yang membuktikan bahwa gamer terkadang, lebih butuh gameplay dari kualitas visual. Ada beberapa proyek yang berusaha berkompetisi di genre ini, namun Shovel Knight pantas jadi yang terbaik. Ada yang menarik dari game yang juga mengkombinasikan elemen action RPG dan konsekuensi ala Dark Souls yang satu ini. Ia berhasil membuat aksi dua dimensi Anda berkembang menjadi sesuatu yang epik dan menantang, apalagi dengan ekstra cerita yang boleh terbilang cukup kuat. Dikombinasikan dengan sound effect dan music pengiring yang tidak kalah kerennya, Anda akan jatuh hati sejak pandangan pertama.

Best FPS: Wolfenstein – The New Order

Wolfenstein®: The New Order_20140523180302
Sebuah game underdog, sebuah game FPS yang dipandang sebelah mata karena beragam trailer dan screenshot awal yang tidak menjual, sebuah game FPS yang berkesan terlalu generic. Ini mungkin kalimat-kalimat yang pantas untuk mendefinisikan Wolfenstein: The New Order sebelum ia dirilis. Namun begitu menjajalnya? Ia tampil sangat luar biasa, bahkan boleh terbilang – mengejutkan. Wolfenstein: The New Order adalah game FPS terbaik sejak kehadiran Call of Duty 4: Modern Warfare lebih dari 5 tahun yang lalu. Gameplay yang ia tawarkan memang terkesan standar, namun Bethesda meramu elemen ekstra lainnya dengan begitu fantastis. Cerita yang kuat, momen yang menuntut Anda untuk memilih dan berhadapan dengan konsekuensi tertentu, karakter yang keren, setting yang luar biasa, musik yang tidak kalah fantastis, jadi nilai jual utama. Jika Anda termasuk gamer yang sudah lama tidak bersenang-senang dengan game FPS single player dan merasa semua game FPS terlalu biasa? You should try this game, for sure!
 

Best Studio/Developer: Monolith Productions

monolith
Ketika developer yang lain berusaha bermain seaman mungkin dan tidak berani menjajal sesuatu yang baru untuk meminimalisir resiko untuk menjual proyek mereka, Monolith hadir dengan gebrakan gagah berani yang terbayar manis. Setelah klaim yang sempat mereka lontarkan sebelum Shadow of Mordor dirilis, Nemesis System yang disuntikkan di game ini ternyata memang begitu unik dan inovatif, sesuatu yang belum pernah diterapkan industri game sebelumnya. Gebrakan yang bahkan membuat gamer mungkin untuk menciptakan kisah dan konflik mereka sendiri. Keberanian yang tentu saja, pantas untuk diapresiasi.

JagatPlay’s Game of the Year: Bayonetta 2

Bayonetta 2 PART 2 jagatplay (24)
Dengan game-game luar biasa yang bersaing di tahun 2014 ini, memang bukan perkara mudah untuk menentukan siapa yang berhak menyandang predikat sebagai yang terbaik di semua aspek. Ada begitu banyak nilai jual dan tentu saja, kelemahan yang pantas untuk diperhatikan. Berangkat dari penilaian inilah, kami akhirnya memutuskan Bayonetta 2 sebagai Game of the Year versi JagatPlay! Alasannya tentu saja tidak hanya berangkat dari fakta bahwa ia merupakan game action super fun, dengan karakter, setting, musik yang keren, sekaligus gameplay yang cukup menantang. Tetapi juga apa yang ia representasikan di dalam industri game. Di tengah maraknya praktik patch hari pertama berpuluh-puluh GB, game yang tidak rampung dan dirilis, DLC hari pertama untuk ekstra konten, dan mewabahnya QTE di game action, Platinum dan Nintendo menghancurkan semua kelemahan tersebut dengan Bayonetta 2. Ia seolah menjadi bukti, bahwa dengan kerja keras dan waktu rilis yang tidak terburu-buru, sebuah game dengan suasana rilis klasik yang bebas masalah masih bisa dicapai. Bayonetta 2 adalah standar baru bagaimana seharusnya publisher dan developer menangani franchise raksasa mereka. Tidak perlu terburu-buru, berbasis kualitas, dan luar biasa ketika tiba di tangan gamer. Dengan ekstra konten disc original Bayonetta 1 dengan harga sama? SUPER SWEET!
Di atas adalah game dan elemen gaming terbaik di tahun 2014 menurut versi JagatPlay. Sebagian besar tentu saja dipilih berdasarkan pengalaman yang berhasil mereka tawarkan, baik di satu platform, maupun lintas platform yang ada.
Bagaimana dengan Anda sendiri? Setujukah Anda dengan pilihan kami di atas? Jangan ragu untuk meninggalkan komentar, pendapat, atau bahkan game pilihan Anda sendiri yang menurut Anda sebenarnya lebih pantas untuk menyandang predikat dari salah satu kategori di atas. So, what is your game of the year?



Sumber : jagatplay.com

Review Corsair Gaming K70 RGB: Bermain Ditemani Simfoni Warna!






Tuntutan yang harus dipenuhi oleh peralatan untuk gamer belakangan ini semakin berat saja. Bukan saja ia harus mampu menyediakan performa yang mantap untuk mendukung kegiatan bermain game dalam jangka waktu lama, akan tetapi harus pula terlihat seksi dan menarik. Untuk menjawab tantangan tersebut, Corsair Gaming K70 RGB menampilkan keyboard mekanik gaming yang bukan saja memiliki bentuk menarik, tetapi juga didukung oleh driver dengan banyak fungsi dan kokoh.

Apa saja yang membuat Corsair Gaming K70 RGB lebih menonjol bila dibandingkan dengan keyboard mekanik gaming lain? Biasanya patokan utama untuk menentukan performa dari sebuah keyboard mekanik adalah jenis saklar mekanik yang digunakan di setiap tombolnya. Corsair Gaming K70 RGB menggunakan Cherry Red yang notabene merupakan saklar keyboard mekanik terbaik untuk gaming. Lalu keyboard ini juga menambahkan cahaya untuk menerangi tombolnya; satu hal yang membedakan keyboard biasa dengan gaming.
Corsair Gaming K70 RGB semakin memperkokoh performanya dengan driver yang dapat di-download dari website resminya: www.corsair.com – dan kejutan baru muncul dari driver tersebut. Bukan saja melengkapi kemampuannya, seakan ia mampu memberikan kehidupan baru dari sekadar keyboard gaming biasa menjadi luar biasa.
Penggunaan Cherry Red diperlihatkan dengan gamblang.
Penggunaan Cherry Red diperlihatkan dengan gamblang.

Cherry Red, Saklar Gaming Sejati

Penggunaan saklar mekanik Cherry Red dalam Corsair Gaming K70 RGB merupakan keputusan terbaik yang diambil untuk melengkapi keyboard gaming mekanik ini. Bila dibandingkan dengan saklar yang biasa ditemukan dalam keyboard mekanik lain, baik keyboard khusus gaming maupun tidak, saklar ini memiliki keistimewaan yang membuatnya nyaman ketika digunakan.
Berbeda dengan keyboard lain, kaki yang dapat ditemukan di sini ada empat.
Berbeda dengan keyboard lain, kaki yang dapat ditemukan di sini ada empat.
Keuntungan dari Cherry Red adalah tekanan yang dibutuhkan untuk mengaktifkannya lebih besar dari Cherry Blue yang biasa digunakan untuk mengetik dan lebih kecil dari Cherry Black yang umum digunakan di keyboard mekanik gaming. Selain itu ia juga tidak mengeluarkan bunyi klik khas milik Cherry Blue. Lalu apa efeknya pada Corsair Gaming K70 RGB?
Penggunaan Corsair Gaming K70 RGB dalam beragam kegiatan, terutama ketika bermain beragam jenis game, memperlihatkan kelebihan dari Cherry Red. Karena ia tidak membutuhkan tekanan sebesar Cherry Black, maka perasaan menekan dalam yang dimiliki Cherry Black tidak ditemukan di Corsair Gaming K70 RGB. Maka respon ketika bermain mengalami peningkatan berkat kecilnya usaha penggunanya untuk melakukan sesuatu.
Hand rest terbuat dari bahan karet yang lembut untuk kenyamanan bermain.
Hand rest terbuat dari bahan karet yang lembut untuk kenyamanan bermain.
Keuntungan lain dari penggunaan saklar mekanik adalah kemampuan untuk menekan sebanyak apapun tombol dalam waktu bersamaan. Mungkin keadaan ini jarang muncul ketika Anda mengetik. Namun, hal ini sering terjadi ketika Anda bermain game, terutama ketika memainkan game action dengan banyak fungsi yang perlu dilakukan bersamaan. Namun, hal ini terkadang membuat pengguna yang ingin menggunakannya untuk mengetik melakukan kesalahan kecil. Biasanya karena jari Anda tidak sengaja sekilas sedikit menekan tombol lain di samping yang ingin ditekan.
Lalu bagaimana dengan kegiatan selain gaming seperti mengetik? Anda akan membutuhkan waktu penyesuaian yang cukup banyak untuk mampu menggunakannya dengan baik. Sebabnya adalah karakteristik keyboard cukup tinggi bila dibandingkan dengan keyboard biasa. Walaupun Corsair Gaming K70 RGB memiliki empat kaki penopang yang membuatnya dapat dimiringkan dalam dua sudut, tetapi hal ini tetap kurang membantu. Solusi terbaik untuk menggunakan keyboard ini dengan baik adalah dengan meninggikan posisi mengetik Anda.
Bahan alumunium membuat body keyboard ini lebih kokoh.
Bahan alumunium membuat body keyboard ini lebih kokoh.

Bentuk Kokoh dan Jantan

Kokoh dan jantan merupakan perwakilan kata yang tepat untuk keyboard ini dalam hal tampilannya. Corsair Gaming K70 RGB menggunakan bahan alumunium yang kokoh untuk melindunginya dari benturan dan hantaman. Walaupun belum dibuktikan dalam stress tes hantaman, Corsair Gaming K70 RGB tampak sangat kokoh untuk penggunaan setiap hari. Selain itu ia juga menggunakan kabel yang dilindungi oleh jalinan serat kuat untuk melindunginya dari elemen luar.
Tombol fungsi untuk musik disertakan supaya Anda tidak repot keluar game untuk mengaturnya.
Tombol fungsi untuk musik disertakan supaya Anda tidak repot keluar game untuk mengaturnya.
Untuk mendukung penggunaan dalam waktu lama, Corsair Gaming K70 RGB memiliki hand rest yang terbuat dari karet nyaman. Hal ini membuat tangan penggunanya tidak mudah slip dan melindungi pergelangannya dari rasa sakit akibat menekan pinggir keyboard dalam waktu lama. Keuntungan yang sangat berguna untuk gamer. Sebab biasanya mereka baru akan sadar rasa sakit di pergelangan tersebut setelah menyelesaikan sesi bermainnya.
Kabel dibuat lebih kuat dengan dukungan jalinan serat.
Kabel dibuat lebih kuat dengan dukungan jalinan serat.

Konser Cahaya nan Indah

Primadona Corsair Gaming K70 RGB yang menjadikannya keyboard gaming nan cantik adalah kemampuannya untuk mereproduksi cahaya dengan jarak spektrum besar. Ketika feature cahaya tersebut digunakan beserta dukungan drivernya, seakan cahaya tersebut menari di permukaan keyboard Anda; satu hal yang pastinya akan membuat pemilik keyboard gaming lain iri setengah mati.
Keyboard ini menggunakan dua koneksi USB untuk pengoperasiannya.
Keyboard ini menggunakan dua koneksi USB untuk pengoperasiannya.
Kemampuan untuk menampilkan warna cahaya apapun tersebut merupakan salah satu kelebihan utama dari Corsair Gaming K70 RGB. Bahkan Anda dapat menempatkan beragam cahaya yang berbeda untuk setiap tombol, membuatnya bereaksi dengan efek cahaya lain ketika ditekan, atau berkedip sementara tombol lain tidak. Apa gunanya untuk gamer? Tentu saja mereka dapat dengan mudah menemukan tombol yang mereka gunakan dalam gaming, terutama ketika berada di ruangan gelap – satu hal yang entah mengapa sangat disukai oleh gamer.
Saklar untuk mengubah preset makro dapat ditemukan di bagian punggung keyboard.
Saklar untuk mengubah preset makro dapat ditemukan di bagian punggung keyboard.

Dukungan Driver Mantap

Driver untuk Corsair Gaming K70 RGB harus diberikan acungan jempol. Bukan saja ia berguna untuk membuat beragam makro untuk membantu gamer ketika bermain, driver ini juga dapat mengatur beragam fungsi cahaya yang muncul di permukaan keyboard. Sayangnya driver ini harus Anda download untuk dapat menggunakannya dan tidak disertakan saja dalam CD di paket penjualannya. Apalagi ukurannya cukup besar, yaitu sekitar 40-an MB.
Cahaya individual dan beragam efeknya dapat digunakan dengan mudah.
Kemampuan untuk mengatur beragam makro keyboard yang ditawarkan di driver ini sangat lengkap. Ia dapat mengulang tombol yang Anda program di dalamnya, memberi jeda dari tombol ditekan hingga ia dijalankan, bahkan dapat mengatur fungsi cahaya yang muncul bila makro tersebut berjalan. Anda juga dapat menyimpannya dalam bentuk file atau di dalam keyboard melalui tiga preset yang dapat dipilih dengan menggeser saklar di keyboard.
Driver multi guna menawarkan beragam setting makro yang dapat Anda rancang sendiri sesuai kebutuhan bermain.
Driver multi guna menawarkan beragam setting makro yang dapat Anda rancang sendiri sesuai kebutuhan bermain.
Fungsi lain yang tidak kalah keren adalah kemampuan untuk mengatur efek cahaya di keyboard. Anda dapat mengatur cahaya untuk muncul dalam bentuk solid, bergradasi, atau bergelombang. Bahkan efek gelombang dapat diatur sendiri sudutnya, durasi, kecepatan munculnya, hingga kekuatan cahayanya. Namun untuk membuat semua efek tersebut, Anda perlu mempelajari dokumentasinya dengan seksama. Untungnya, Anda dapat men-download beragam efek cahaya yang dibuat pengguna lain di forum onlinenya.
Reproduksi cahaya keyboard begitu banyak dan berasal dari spektrum yang luas.
Reproduksi cahaya keyboard begitu banyak dan berasal dari spektrum yang luas.

Kesimpulan

Corsair Gaming K70 RGB memperlihatkan kemampuannya yang luar biasa dalam perannya sebagai keyboard mekanik gaming. Bukan itu saja, ia juga memiliki kecantikan berkat efek cahaya yang mampu dihasilkannya. Semua itu berkat kemudahan penggunaan driver dengan segudang fungsi menarik. Driver tersebut juga dapat digunakan bila Anda memiliki perangkat Corsair Gaming lain, seperti mouse gamingnya.
Efek cahaya dapat diatur sendiri atau di-download dari forum.
Efek cahaya dapat diatur sendiri atau di-download dari forum.
Kekurangannya yang dapat membuat tidak nyaman adalah tingginya. Mungkin akibat keyboard ini ingin memperlihatkan keberadaan Cherry Red, maka tombolnya tergolong tinggi dan pada gilirannya meminta Anda untuk menaikkan posisi tangan. Bila digunakan untuk waktu yang lama, ada kemungkinan Anda akan mengalami kelelahan. Itu sebabnya disarankan untuk menggunakan Corsair Gaming K70 RGB dari posisi yang agak tinggi. Selain itu, disarankan pula untuk mengubah efek cahaya menjadi satu warna yang menyala saja ketika mengetik. Gelombang cahaya yang selalu berubah pastinya akan merusak konsentrasi Anda ketika harus mengetik laporan yang serius.
 

Sumber : jagatplay.com

Review Headset Gaming Plantronics RIG: Satu Paket Audio Lengkap!


Audio mungkin menjadi salah satu elemen yang paling sering dipandang sebelah mata di industri game. Sebagian besar gamer, apalagi mereka yang memiliki platform yang cukup terbuka terhadap peripheral pihak ketiga, lebih sering menjadikan kualitas visual dan gameplay sendiri, sebagai satu-satunya indikator yang harus tampil dalam level paling optimal. Padahal, audio menjadi jendela untuk membangun atmosfer pengalaman yang lebih baik, dari sekedar suara dentingan musik yang menggugah emosi, hingga suara intonasi percakapan yang tentu saja menjadi dasar dari terbangunnya dasar cerita dari game tersebut. Kekuatan inlah yang berusaha ditawarkan oleh salah satu brand perangkat audio ternama – Plantronics yang akhirnya memperkenalkan sang headset gaming terbaru – RIG.

Desain dan Fitur

Berbalut warna hitam yang elegan, Plantronics RIG memang tidak memperlihatkan kesan produk gaming yang kentara. Tidak ada sisi kosmetik yang berlebihan untuk menunjang identitas tersebut.
Berbalut warna hitam yang elegan, Plantronics RIG memang tidak memperlihatkan kesan produk gaming yang kentara. Tidak ada sisi kosmetik yang berlebihan untuk menunjang identitas tersebut.
Ear pad berbahan busa menunjang kenyamanan, namun sayangnya, dengan ukuran ear pad yang tidak cukup lebar untuk menutup keseluruhan telinga.
Ear pad berbahan busa menunjang kenyamanan, namun sayangnya, dengan ukuran ear pad yang tidak cukup lebar untuk menutup keseluruhan telinga.
Akibatnya, ear pada terasa cukup menekan daun telinga dan cukup lelah jika digunakan untuk waktu yang lama.
Akibatnya, ear pada terasa cukup menekan daun telinga dan cukup lelah jika digunakan untuk waktu yang lama.
Jika kita membicarakan Plantronics sebagai sebuah brand, produsen yang satu ini memang cukup terkenal lewat kesederhanaan desain dan kualitas audio yang pantas untuk diacungi jempol. Identitas yang tampaknya cukup banyak berubah di RIG. Dengan desain berwarna hitam sebagai warna dominan dan bentuk yang terhitung proporsional, RIG memang tidak memperlihatkan “kesan” gaming yang kentara sekilas padang. Anda tidak akan bertemu dengan kilatan-kilatan cahaya lampu LED atau sekedar logo bertema garang di setiap sudut headset ini. Untuk urusan desain, RIG memang masih mengusung kesederhanaan produk Plantronics. Namun di sisi fungsi, ia menawarkan begitu banyak fitur, bahkan terhitung kompleks.
Dengan busa sebagai bahan dasar pads, Plantronics RIG memang terlihat jelas menjadikan kenyamanan telinga Anda sebagai salah satu prioritas utama. Build plastik yang ringan dan lebih kokoh juga memperkuat kesan tersebut. Namun sayangnya, untuk kami pribadi, pads ini tidak menutup telinga dengan sempurna dan menyisakan sedikit ruang. Headset ini juga sedikit terasa terik dan tidak nyaman untuk digunakan dalam waktu yang lama. Namun urusan fungsi, Plantronics RIG akan menyediakan lebih dari yang Anda minta. Sebagai sebuah headset gaming, tidak berlebihan rasanya untuk menyebut headset yang satu ini sebagai sebuah perangkat audio lengkap untuk memenuhi semua kebutuhan Anda.
Komitmen Plantronics untuk menawarkan sebuah headset "gaming" memang pantas untuk diacungi jempol. Tidak hanya PC, ia juga bisa digunakan untuk Playstation 3 dan Xbox 360. Ia bahkan menyediakan hampir semua kabel yang Anda butuhkan untuk memfasilitasi hal tersebut.
Komitmen Plantronics untuk menawarkan sebuah headset “gaming” memang pantas untuk diacungi jempol. Tidak hanya PC, ia juga bisa digunakan untuk Playstation 3 dan Xbox 360. Ia bahkan menyediakan hampir semua kabel yang Anda butuhkan untuk memfasilitasi hal tersebut.
Dengan menggunakan bentuk gambar, Anda akan mendapatkan instruksi singkat, jelas, dan padat untuk menggunakan Plantronics RIG di Playstation 3 atau Xbox 360 Anda.
Dengan menggunakan bentuk gambar, Anda akan mendapatkan instruksi singkat, jelas, dan padat untuk menggunakan Plantronics RIG di Playstation 3 atau Xbox 360 Anda.
Satu hal yang mungkin Anda perhatikan sejak membuka kotak Plantronics RIG ini untuk pertama kali, adalah begitu banyak kabel yang ia tawarkan. Untuk menunjang fungsinya sebagai sebuah headset gaming, Plantronics RIG memang fleksibel untuk digunakan di platform gaming manapun yang Anda miliki. Benar sekali, tidak hanya bisa digunakan di PC, Plantronics RIG juga kompatibel untuk konsol generasi saat ini – Playstation 3 dan Xbox 360. Anda juga tidak perlu dipusingkan dengan bagaimana cara untuk membuat fungsi ini bisa dinikmati secara langsung, mengingat manual yang ditawarkan dalam bentuk gambar. Padat, singkat, dan jelas.
Tidak hanya sekedar untuk menunjang kemampuan gaming Anda di beragam platform, Plantronics RIG juga hadir dengan sebuah master control dengan desain yang elegan. Berisikan port penting yang bisa Anda suntikkan dengan perangkat audio yang lain, kehadiran master control ini memberikan ekstra ruang yang bahkan jauh lebih fleksibel. Benar sekali, ia juga didesain untuk memfasilitasi kebutuhan Anda yang juga mengandalkan perangkat mobile sebagai ujung tombak untuk menikmati konten multimedia yang ada. Master control ini memang terlihat cukup kompleks, namun tidak sulit untuk dikuasai. Dengan ekstra satu kabel jack 3.5 mm yang menjuntai pendek, Anda bisa menghubungkan Plantronics RIG ini ke perangkat mobile pintar Anda sekaligus tetap menghubungkannya dengan platform gaming atau PC Anda.
Master control yang juga termasuk dalam paket pembelian ini akan menunjang fungsi Plantronics RIG yang lebih fleksibel.
Master control yang juga termasuk dalam paket pembelian ini akan menunjang fungsi Plantronics RIG yang lebih fleksibel.
Bukan perkara sulit untuk mengenali dan memahami fungsi perangkat ekstra yang satu ini.
Bukan perkara sulit untuk mengenali dan memahami fungsi perangkat ekstra yang satu ini.
Anda bisa menghubungkan perangkat mobile dan gaming Anda lewat master control ini. Kerennya lagi? Anda bisa  mengakses keduanya secara bergantian, semudah menekan switch besar di bagian tengah peripheral ini.
Anda bisa menghubungkan perangkat mobile dan gaming Anda lewat master control ini. Kerennya lagi? Anda bisa mengakses keduanya secara bergantian, semudah menekan switch besar di bagian tengah peripheral ini.
Mobile dan gaming di saat yang sama? Why not!
Mobile dan gaming di saat yang sama? Why not!
Lantas bagaimana cara menikmatinya? Sebuah tombol di tengah berisikan switch besar, memungkinkan Anda untuk mengakses mode mobile dan game secara instan. Dibantu dengan warna lampu LED berwarna orange dan biru sebagai indikator untuk masing-masing mode tersebut, master control ini bahkan memungkinkan Anda untuk menjadikan Plantronics RIG sebagai microphone untuk perangkat mobile Anda. Sementara di mode game? Ada tiga buah setting equalizer pre-set yang bisa diakses dengan hanya menekan tombol equalizer yang ada.
Ada tiga buah mode pre-set equalizer yang juga bisa Anda akses lewat master control tersebut.
Ada tiga buah mode pre-set equalizer yang juga bisa Anda akses lewat master control tersebut.
Sedikit bijaksana mengatur tingkat volume yang ada, karena Anda bisa saja mengganggu kenyamanan orang lain karena suara yang bocor keluar, apalagi jika Anda tengah berada di tempat umum atau keramaian.
Sedikit bijaksana mengatur tingkat volume yang ada, karena Anda bisa saja mengganggu kenyamanan orang lain karena suara yang bocor keluar, apalagi jika Anda tengah berada di tempat umum atau keramaian.
Bagiamana jika Anda hendak menggunakannya sebagai perangkat audio yang mobile? Dengan bentuk yang memang tidak bisa dilipat, memang cukup sulit untuk membawa headset ini ke dalam tas atau media penyimpanan Anda. Ini bisa dimaklumi, karena Plantronics RIG memang tidak didesain untuk hal tersebut. Untungnya, dengan port jack terpisah yang bisa dicabut dan dipasang, Anda bisa memosisikannya sebagai headset multimedia biasa, yang tidak membutuhkan si master control itu sendiri. Satu-satunya kekurangan dari hal ini mungkin terbatasnya volume suara yang bisa dihasilkan dan tentu saja equalizer yang kini bergantung pada perangkat mobile Anda. Namun terlepas dari hal ini, ia tetap menjadi  headset yang bisa diandalkan dan dinikmati. Jangan lupa pula untuk menggunakannya dengan bijaksana, karena suara yang mudah keluar dan mungkin mengganggu kenyamanan orang lain ketika di-set di tingkat volume tertentu.
 

Plantronics RIG, Seberapa Baik?

Plantronics RIG, seberapa baik?
Plantronics RIG, seberapa baik?
Sebagai sebuah headset gaming, Plantronics RIG tentu saja dituntut untuk tidak hanya tampil prima di fungsi utama gaming, tetapi juga melayani kebutuhan multimedia lain seperti musik dan film. Dengan kecepatan internet yang kian tinggi dan harga yang semakin terjangkau, kebutuhan data memang berkembang sangat pesat, terutama dari kebutuhan untuk menikmati film-film dengan definisi terbaik, atau melirik file-file audio di kualitas paling optimal. Mampukah Plantronics RIG memperlihatkan performa yang menawan di sektor yang satu  ini?

Film

Dengan cita rasa Plantronics yang selama ini memang dikenal sebagai salah satu perangkat audio terbaik di pasaran, film-film definisi tinggi tampaknya tidak menjadi masalah yang perlu dirisaukan. Kami sendiri menjajalnya di dua buah film action untuk menangkap seberapa mampu ia menghadirkan atmosfer sinematik yang biasanya Anda temukan di layar lebar. Tugas ini diserahkan ke dua film action ternama – Pacific Rim dan tentu saja – Thor 2: The Dark World. Sebagai film  yang dihiasi pecakapan, suara efek ledakan dan dentingan besi dimana-mana, Plantronics RIG menangkap kualitas detail dengan cukup baik. Percakapan terdengar halus dan jelas, sementara suara efek ledakan yang bombastis juga ditawarkan dengan baik. Hanya saja Anda harus cukup cermat untuk mengatur tingkat volume yang ada lewat master control. Terlalu keras? Anda mungkin akan mendapatkan hasil suara rendah yang pecah dan berdengung.

Musik

Untuk mendapatkan genre yang lebih jelas terkait headset yang satu ini, kami menjajalnya dengan beragam genre musik yang ada. Ada empat lagu yang kami pilih untuk empat buah genre musik yang berbeda: Girl’s Generation – Mr.Mr (Dance), Dir en Grey – Sustain the Untruth (Metal), Gustavo Santaolalla – The Last of Us (Akustik), dan Tricot – Ochanensu-su (Math Rock). Keempat musik ini hadir dalam file MP3 320kbps untuk merepresentasikan kualitas audio paling optimal dengan format yang paling banyak dipilih gamer saat ini. Untuk genre musik yang mengandalkan instrumen seperti The Last of Us dan Ochanensu, Plantronics RIG tampil optimal. Walaupun ruang suara yang ditawarkan terhitung sempit, namun Anda masih bisa menangkap detail suara dengan sangat baik. Sementara untuk musik seperti Mr. Mr dan Sustain the Untruth, Plantronics RIG akan bisa jauh lebih dinikmati di tingkat volume tertentu. Semakin keras suara yang ingin Anda hasilkan, semakin pecah pula suara tinggi yang ada, mengaburkan semua detail yang ingin Anda tangkap. Ingin lebih aman? Anda punya kebebasan untuk memasang headset ini tanpa si master control sembari menyuntikkan software pihak ketiga untuk menghasilkan suara yang lebih optimal, mengingat Plantronics RIG sendiri tidak didukung dengan perangkat lunak untuk memfasilitasi Anda yang punya preferensi suara pribadi.

Gaming

Plantronics RIG tampaknya datang di saat yang tepat ke kantor kami. Di tengah bulan yang kaya dengan game-game yang sangat mengandalkan pada suara, kami berkesempatan untuk menjadikannya sebagai ujung tombak ketika menjajal Titanfall beta dan tentu saja proyek terbaru dari Square Enix – Thief. Di Titanfall, Plantronics RIG pantas mendapatkan acungan jempol, terhitung berhasil menangkap mumpuninya kualitas audio yang disuntikkan Repsawn Entertainment di game berbasis multiplayer ini. Kemampuannya untuk melemparkan detail suara yang baik terbayarkan ketika kami bisa mengenali suara derap kaki pasukan musuh yang tengah naik ke atas Titan kami, ketika sebagian besar gamer, mungkin harus menunggu notifikasi dari AI untuk mengenali “gejala berbahaya” ini. Sementara di dunia Thief yang begitu tenang dan sensitif terhadap suara, kemampuan menawarkan detail ala Plantronics RIG menjadi ujung tombak yang sangat membantu. Anda bisa mendengar jelas suara derap kaki atau percakapan yang tengah berlangsung di sekitar Anda. Walaupun harus diakui, atmosfer sinematiknya sendiri tidak terasa mumpuni.

Kesimpulan

Bertolak belakang dari identitasnya yang selama ini memang sering dicitrakan sebagai perangkat audio mumpuni yang sederhana, Plantronics RIG tampil lebih kompleks. Desain yang cukup nyaman dan minim aksesoris memang masih memperkuat citra tersebut. Namun Plantronics RIG menawarkan begitu banyak fungsi yang membuatnya tampil sebagai headset berpaket lengkap, untuk semua kebutuhan multimedia, terlepas dari platform apapun yang Anda miliki
Bertolak belakang dari identitasnya yang selama ini memang sering dicitrakan sebagai perangkat audio mumpuni yang sederhana, Plantronics RIG tampil lebih kompleks. Desain yang cukup nyaman dan minim aksesoris memang masih memperkuat citra tersebut. Namun Plantronics RIG menawarkan begitu banyak fungsi yang membuatnya tampil sebagai headset berpaket lengkap, untuk semua kebutuhan multimedia, terlepas dari platform apapun yang Anda miliki
Bertolak belakang dari identitasnya yang selama ini memang sering dicitrakan sebagai perangkat audio mumpuni yang sederhana, Plantronics RIG tampil lebih kompleks. Desain yang cukup nyaman dan minim aksesoris memang masih memperkuat citra tersebut. Namun Plantronics RIG menawarkan begitu banyak fungsi yang membuatnya tampil sebagai headset berpaket lengkap, untuk semua kebutuhan multimedia, terlepas dari platform apapun yang Anda miliki. Dengan sebuah master control yang cukup mudah dipahami (selama Anda mengerti manual yang ada), Anda mendapatkan fleksibilitas ekstra untuk memanfaatkan Plantronics RIG di platform yang Anda inginkan, baik mobile maupun gaming, bahkan menggunakan keduanya sekaligus. Tidak hanya mendukung PC, Plantronics RIG juga menyediakan serangkaian kabel yang dibutuhkan untuk memaksimalkannya di perangkat gaming yang lebih tertutup seperti Playstation 3 dan Xbox 360.
Sayangnya, ada beberapa kekurangan yang mungkin pantas untuk dicatat dari headset yang satu ini. Pertama adalah perangkat lunak pendukung untuk menghasilkan kualitas suara yang sesuai dengan preferensi pribadi Anda sendiri. Anda hanya akan disuguhkan sebuah tombol equalizer kecil yang hanya memuat tiga buah preset suara. Ia juga sangat bergantung pada volume standar yang biasa Anda gunakan untuk menikmati konten multimedia yang ada. Memainkannya di level yang terlalu keras, maka Anda terkadang menemukan suara tinggi yang pecah, yang secara otomatis mengaburkan kualitas detail suara yang lain.
Plantronics RIG sendiri ditawarkan di range harga Rp 1.320.000,-.

sumber : jagatplay.com

Review Logitech G502 – Proteus Core: Beradaptasi dengan Kebutuhan Anda!


Logitech G502 - Proteus Core
Logitech G502 – Proteus Core
Memilih sebuah perangkat gaming yang sesuai dengan kebutuhan gaming kita memang bukan perkara yang mudah. Sebagai produk yang tujuan utamanya menawarkan kenyamanan paling optimal untuk sebuah aktivitas yang bisa dilakukan selama berjam-jam tanpa henti, peripheral gaming memang menjadi elemen yang sangat krusial. Masalahnya, tidak semua produk ini akan mampu memfasilitasi apa yang Anda inginkan, dengan beragam kelemahan yang tentu menjadi bahan pertimbangan untuk memilih satu di antara varian yang ada. Di sebagian besar skenario, Anda yang harus beradaptasi dengan keterbatasan peripheral ini. Namun di Logitech G502 – Proteus Core, berkebalikan. Teknologi yang disuntikkan oleh Logitech membuat mouse ini mampu beradaptasi dengan kebutuhan gaming Anda.

Desain dan Fitur

Kesan yang elegan dan balutan warna hitam dan desain yang terlihat futuristik di bagian depan, Logitech G502 - Proteus Core memperlihatkan identitasnya sebagai peripheral gaming dengan kuat.
Kesan yang elegan dan balutan warna hitam dan desain yang terlihat futuristik di bagian depan, Logitech G502 – Proteus Core memperlihatkan identitasnya sebagai peripheral gaming dengan kuat.
Secara kasat mata, gamer manapun yang melihat wujud fisik Logitech G502 – Proteus Core akan dengan mudah menetapkannya sebagai sebuah peripheral gaming. Desain oval dengan sedikit ekstra thumb rest di bagian kanan memang memperlihatkan bahwa desainnya dibangun dengan fokus untuk menawarkan kenyamanan, di luar sisi kosmetik yang juga terasa kentara. Tidak ada logo atau beragam pola yang “membanjiri” mouse ini, hanya warna hitam legam nan elegan yang membalut keseluruhan mouse berbahan dasar plastik dengan karet di kedua sisi ini. Sebuah logo dengan huruf G besar berada di bagian sisi kiri.
Seperti sebagian besar mouse gaming saat ini, Logitech G502 – Proteus Core juga menyematkan begitu banyak ekstra tombol selain tiga tombol fungsi utama yang tentu saja harus dimiliki oleh sebuah mouse, gaming ataupun tidak. Di sisi kiri, ia hadir dengan 5 tombol berbeda yang masing-masing darinya tentu saja menawarkan fungsi yang berbeda satu sama lain. Dua tombol sebagai jalan pintas untuk mengakse fungsi back dan forwarda, dan ekstra tombol lainnya untuk mengatur sensitivitas. Lampu LED yang disuntikkan juga tidak berlebihan untuk menawarkan sisi kosmetik, dengan satu di bagian logo dan lainnya sebagai indikator tingkat sensivitas yang tengah Anda gunakan. Di tengah juga dimuat satu tombol untuk mengubah sifat scroll wheel ke dalam dua mode yang berbeda.
Dari sisi kosmetik, ia memang tidak menawarkan banyak pernak-pernik, selain lampu LED di logo utama dan indikator sensitivitas.
Dari sisi kosmetik, ia memang tidak menawarkan banyak pernak-pernik, selain lampu LED di logo utama dan indikator sensitivitas.
Beragam tombol ekstra di bagian kiri untuk mengakses beragam fungsi secara instan.
Beragam tombol ekstra di bagian kiri untuk mengakses beragam fungsi secara instan.
Dua tombol kecil ekstra disematkan di bagian tengah.
Dua tombol kecil ekstra disematkan di bagian tengah.
Lantas, spesifikasi lengkap seperti apa yang diusung oleh Logitech G502 – Proteus Core ini?
  • Resolution: 200 -12.000 dpi
  • Max. Acceleration: >40G
  • Max. Speed: >300 ips
  • USB data format: 16 bits/ axis
  • USB report rate: 1000 Mz (1 ms)
  • Microprocessor: 32 bit
  • Buttons Durability: 20 million clicks
  • Feet Durability: 250 kilometers
  • Weight: 168 grams (with cable)
  • Length: 132mm
  • Width: 75mm
  • Height: 40mm

Logitech G502 – Proteus Core, Seberapa Nyaman?

Logitech G502 - Proteus Core, Seberapa Nyaman?
Logitech G502 – Proteus Core, Seberapa Nyaman?
Untuk sebuah mouse gaming, Logitech G502 – Proteus Core tidak lantas sekedar menawarkan fungsi tanpa menawarkan kenyamanan yang pantas untuk dilirik. Untuk gamer yang  menjadikan tangan kanan mereka sebagai tangan utama, mouse yang satu ini menawarkan kenyamanan yang Anda butuhkan untuk mendapatkan grip yang lebih kuat. Bahan karet yang digunakan di kedua sisi menjamin hal tersebut, serta meminimalisir kesalahan gerak yang mungkin saja muncul karena keringat berlebih. Desain futuristik yang disematkan pada beragam tombol ekstra di bagian kiri tidak lantas membuat Logitech G502 – Proteus Core ini terasa canggung. Semua tombol ini bisa diakses dengan cukup mudah dan akurat. Permasalahan dari penempatan seperti ini hanya satu – ekstra celah yang tentu saja berpontesi menarik debu berlebih yang sulit untuk dibersihkan.
Lantas, apa yang membuat kami menyimpulkan Logitech G502 – Proteus Core sebagai sebuah mouse yang mampu beradaptasi dengan beragam kebutuhan gaming Anda? Kita tidak hanya membicarakan sensasi dan akurasi feedback yang Anda dapatkan setiap kali mengeksekusi perintah, tetapi juga pada fakta bahwa Logitech memastikan G502 ini memfasilitasi beragam jenis gamer yang tentu saja berbeda satu sama lain. Begitu banyak hal yang bisa Anda modifikasi di sini untuk mencapai hal tersebut, baik dari sisi perangkat kerasnya sendiri ataupun perangkat lunak pendukung. Logitech G502 – Proteus Core memberikan kebebasan untuk menentukan sendiri mouse gaming seperti apa yang Anda inginkan.
Kita membicarakan kemampuan sang sensor utama yang mampu menawarkan range sensivitas super luas, dari 200  – 12.000 dpi, dengan tingkat akurasi gerakan yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Dibagi ke dalam berbagai profile dan jenjang, dengan hanya menggunakan satu tombol sederhana yang ada, Anda bisa mengakses varian sensitivitas tersebut secara real-time. Anda membutuhkan gerak kamera yang responsif ketika bermain game-game FPS kompetitif dengan kecepatan yang tinggi? Logitech G502 – Proteus Core mampu memfasilitasi hal tersebut. Sensasi bahwa ia bisa diandalkan juga mengakar ketika Anda bermain game-game lain, seperti strategi, yang lebih membutuhkan sensitivitas lebih rendah. Mouse gaming ini menawarkan fleksibilitas tersebut.
Dengan dukungan range sensitivitas gerak dari 200 - 12.000 dpi, mouse ini bisa diandalkan untuk segala macam genre dan kebutuhan gaming.
Dengan dukungan range sensitivitas gerak dari 200 – 12.000 dpi, mouse ini bisa diandalkan untuk segala macam genre dan kebutuhan gaming.
Logitech G502 - Proteus Core juga menyediakan kesempatan memodifikasi berat dengan bentuk pemberat dan penempatan yang berpengaruh pada keseimbangan mouse itu sendiri.
Logitech G502 – Proteus Core juga menyediakan kesempatan memodifikasi berat dengan bentuk pemberat dan penempatan yang berpengaruh pada keseimbangan mouse itu sendiri.
Fleksibilitas juga ditawarkan untuk Anda yang cukup sensitif dengan masalah berat mouse. Elemen yang satu ini memang seringkali diasosiasikan dengan grip yang lebih kuat dan tentu saja gerak mouse yang dirasakan lebih akurat. Logitech G502 – Proteus Core menyediakan pemberat ekstra untuk Anda yang merasa bahwa mouse ini membutuhkan lebih banyak beban untuk dapat dinikmati secara optimal. Lewat sebuah cover di bawah mouse yang bisa dengan mudah dibuka dan dilepas, Anda bisa menyematkan 5 buah pemberat dengan bentuk dan tata letak yang unik, yang tentu saja berpengaruh pada keseimbangan mouse itu sendiri. Tidak hanya berat, Logitech G502 – Proteus Core juga menyediakan satu tombol di bagian tengah yang memungkinkan Anda untuk mengakses scroll wheel dalam dua format berbeda: Click to Click atau Hyper Fast. Click to click berfungsi tak ubahnya scroll wheel mouse pada umumnya, sementara Hyper Fast mengubah roda ini menjadi bebas hambatan sama sekali, memungkinkan Anda untuk memutarnya dalam kecepatan super tinggi.
Namun dari semua fitur yang ia tawarkan, kemampuan software lah yang menjadi salah satu kekuatan utama Logitech G502 – Proteus Core ini. Dengan user-interface yang sangat sederhana, Anda bisa melakukan tuning beragam fungsi yang Anda butuhkan untuk menaklukkan setiap genre game yang tengha Anda mainkan, dari MMO hingga FPS yang membutuhkan akurasi gerak super cepat. Lewat driver terintegrasi milik Logitech, Anda bisa mengatur tingkat sensitivitas yang Anda inginkan dan menyimpannya ke dalam salah satu profile yang ada. Tidak hanya itu saja, untuk “menyederhanakan” beragam fungsi kompleks yang Anda butuhkan ketika bermain game-game favorit, Logitech G502 – Proteus Core juga menyematkan fungsi makro untuk 11 tombol yang bisa Anda modifikasi fungsinya. Yang perlu Anda lakukan hanyalah memilih tombol mana yang Anda inginkan dan langsung membubuhkan kombinasi fungsi dan aksi yang Anda butuhkan. Sesederhana itu.
Driver dengan user-interface yang mudah akan memfasilitasi semua hal yang ingin Anda modifikasi, dari makro hingga range sensitivitas.
Driver dengan user-interface yang mudah akan memfasilitasi semua hal yang ingin Anda modifikasi, dari makro hingga range sensitivitas.
Menjajalnya di tiga game besar dari tiga genre berbeda - DOTA 2 untuk MOBA, Watch Dogs untuk action, dan Transistor untuk RPG, Logitech G502 - Proteus Core mampu melahap kesemuanya dengan mudah.
Menjajalnya di tiga game besar dari tiga genre berbeda – DOTA 2 untuk MOBA, Watch Dogs untuk action, dan Transistor untuk RPG, Logitech G502 – Proteus Core mampu melahap kesemuanya dengan mudah.
Tidak adil rasanya untuk menyebut Logitech G502 – Proteus Core sebagai peripheral gaming tanpa mengujinya langsung di fungsi yang seharusnya ia tampil luar biasa – gaming. Datang di saat yang tepat, kami menjadikannya sebagai senjata andalan untuk tiga buah game dengan pesona yang berbeda satu sama lain – DOTA 2 untuk MOBA, Watch Dogs untuk Action, dan Transistor untuk RPG. Untuk Watch Dogs dan Transistor yang tidak membutuhkan kecepatan respon gerak yang tinggi, tingkat sensivitas rendah milik Logitech G502 – Proteus Core sudah cukup untuk menawarkan yang Anda butuhkan. Pergerakan yang fluid, tanpa masalah, dan tentu saja – akurat. Sementara untuk game dengan aura kompetitif yang lebih kentara, kecepatan gerakan akan menentukan hidup dan mati karakter utama Anda. Bermain di sensitivitas yang lebih tinggi dengan perubahaan secara real-time, Logitech G502 – Proteus Core memastikan diri mampu menangani ketiga game dengan genre berbeda ini tanpa masalah.

The Ultimate Points: Surface Tuning!

Adaptif untuk semua jenis permukaan, Anda bisa melakukan tuning secara manual untuk memastikan mouse ini terus berfungsi secara optimal.
Permukaan letak mouse tentu saja menjadi elemen krusial yang berpengaruh pada akurasi gerak mouse itu sendiri. Untungnya, Logitech memastikan G502 mampu mengatasi masalah klasik ini.
Didukung dengan perangkat lunak yang mumpuni, Logitech G502 – Proteus Core memang siap untuk memfasilitasi hampir semua kebutuhan Anda untuk menaklukkan setiap genre gaming yang Anda inginkan. Driver yang ia tawarkan memang menjadi salah satu nilai jual utama yang membuat mouse ini kian menarik, namun ada satu fitur ekstra keren lainnya yang membuat fleksibilitasnya sebagai peripheral gaming adaptif semakin kuat. Benar sekali, kita tengah membicarakan inti Proteus pintarnya yang akan membawanya kian kokoh sebagai mouse yang mengerti kebutuhan Anda.
Berapa banyak dari Anda yang seringkali kesal setelah menemukan ternyata mouse yang Anda gunakan ternyata tidak mampu berjalan di permukaan tertentu? Atau mungkin Anda sudah menyediakan mouse pad dari produk lain namun berakhir menjadi bencana tersendiri untuk mouse andalan Anda tersebut? Proteus Core menyediakan solusi pintar untuk hal tersebut. Selain dua preset yang memungkinkan G502 untuk beradaptasi langsung dengan dua produk mousepad Logitech – G240 dan G440 secara langsung, Anda juga diberikan kesempatan untuk melakukan surface tuning lewat driver yang ditawarkan. Seperti namanya, inti fungsi ini adalah memastikan mouse Anda mampu beradaptasi dan bergerak dalam range optimal terlepas dari permukaan apapun yang menjadi dasarnya.
Memilih atau menciptakan preset Anda sendiri, memastikan Logitech G502 ini beradaptasi dengan permukaan yang Anda tawarkan.
Memilih atau menciptakan preset Anda sendiri, memastikan Logitech G502 ini beradaptasi dengan permukaan apapun yang Anda lemparkan.
Permukaan gaming Anda tidak ditemukan? Tuning manual dan pastikan mouse ini beradaptasi dengan kebutuhan Anda.
Permukaan gaming Anda tidak ditemukan? Tuning sederhana secara manual bisa dilakukan.
Mekanismenya sangat sederhana. Untuk setiap satu permukaan asing dimana Logitech G502 – Proteus Core diletakkan, Anda hanya tinggal mengakses fitur bernama “Surface Tuning” di bagian driver dan melakukan kalibrasi ulang. Menahan tombol klik kiri selama beberapa detik sembari melakukan gerakan memutar dengan instruksi yang terpampang jelas di layar, Anda akan mendapatkan sebuah mouse gaming yang bisa menyesuaikan diri dengan kondisi Anda sendiri sebagai seorang gamer. Luar biasa!

Kesimpulan

Logitech G502 - Proteus Core
Logitech G502 – Proteus Core memang berhasil membuktikan dirinya sebagai salah satu produk mouse gaming yang pantas untuk dilirik, apalagi jika Anda termasuk gamer kompetitif yang memang membutuhkan sebuah mouse yang bisa diandalkan untuk segala situasi, serta menjamin kenyamanan, baik di sisi hardware maupun software-nya sendiri.
Sebagai sebuah mouse yang dikategorikan sebagai peripheral gaming, Logitech G502 – Proteus Core menjalankan tugasnya dengan sangat baik. Desain yang elegan dan nyaman untuk digunakan, terutama jika Anda termasuk gamer dengan tangan kanan sebagai tangan utama,  membuatnya tetap bisa diandalkan untuk diajak “bertempur” selama berjam-jam, tanpa istirahat. Dengan bahan karet yang disematkan di sisi kiri dan kanan, ia juga menjamin grip yang lebih mumpuni. Namun di atas semua keunggulan tersebut, fleksibilitas dan adaptatif adalah dua nilai jual utama yang menjadikan Logitech G502 – Proteus Core sebagai produk yang menarik. Beragam jenis gamer dengan keluhannya sendiri-sendiri akan bisa mengandalkan kesempatan memodifikasi elemen seperti berat dan variasi sensitivitas yang ia tawarkan. Anda yang menginginkan fungsi yang lebih kompleks juga bisa mengandalkan dukungan fungsi makro di 11 tombol yang ada.
Namun ada beberapa hal yang juga pantas untuk dicatat dari Logitech G502 – Proteus Core ini. Pertama, tentu saja fakta bahwa mouse ini tidak akan nyaman digunakan untuk gamer kidal yang mungkin akan merasa canggung dengan bentuk dan tata letak tombol yang ada. Kedua, di luar tampilan futuristik yang mengalir kentara darinya, celah yang muncul dari tata letak menjadi masalah kebersihan tersendiri. Debu menjadi mudah masuk dan akan sulit dibersihkan dengan hanya sekedar tiupan dan tangan kosong. Butuh perhatian ekstra untuk hal ini.
Namun terlepas dari kedua catatan ini, Logitech G502 – Proteus Core memang berhasil membuktikan dirinya sebagai salah satu produk mouse gaming yang pantas untuk dilirik, apalagi jika Anda termasuk gamer kompetitif yang memang membutuhkan sebuah mouse yang bisa diandalkan untuk segala situasi, serta menjamin kenyamanan, baik di sisi hardware maupun software-nya sendiri. Logitech G502 – Proteus Core ditawarkan dengan range harga sekitar Rp 660.000,-, harga yang terhitung bersaing untuk sebuah mouse dengan kelengkapan fitur dan desain menarik.

sumber : jagatplay.com


Source